KARAWANG – Asap tipis mengepul dari deretan panci besar di dapur umum Dinas Sosial (Dinsos) Karawang. Di sela denting sendok dan suara kompor, para petugas dan relawan bergerak cepat—mengaduk nasi, menyiapkan lauk, hingga mengemas ratusan paket makanan.
Sejak banjir merendam sejumlah wilayah Karawang, dapur ini menjadi nadi logistik yang tak pernah benar-benar berhenti berdetak.
Minggu (25/1) siang, sekitar pukul 12.30 WIB, kesibukan itu masih terasa. Meski banjir di beberapa titik disebut-sebut mulai surut, kebutuhan makanan bagi para korban banjir tetap tinggi. Dari dapur inilah makanan hangat dikirim ke pengungsian.
Baca juga: Sepekan Tidur di Pengungsian, Anak-anak Korban Banjir Karawang Alami Demam, Butuh Selimut
Sekretaris Dinsos Karawang, Deden Ramli, menuturkan bahwa sejak hari pertama banjir, dapur umum langsung beroperasi penuh.
Desa Karangligar menjadi salah satu wilayah prioritas karena jumlah pengungsinya cukup besar.

Di masa puncak banjir, dapur umum bahkan mampu mendistribusikan hingga sekitar 2.000 paket makanan setiap hari.
“Tapi kalau sekarang sudah mulai menyusut ya, karena di Resinda aja tadi pagi kami mengirim 300 porsi,” ujarnya.
Dari dapur ini, makanan didistribusikan ke berbagai wilayah terdampak seperti ke posko Karangligar, Resinda, Purwadana, Tanjungpura, Tanjungmekar, hingga kawasan Badami, Karawang Barat, yang terdampak jebolnya tanggul.
Distribusi difokuskan ke wilayah terdekat, sementara daerah yang lebih jauh dibantu dapur swadaya masyarakat. Namun, dapur umum Dinsos tetap siaga jika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Baca juga: Macan Tutul Sanggabuana Karawang Diduga Ditembak Pemburu Liar
“Kalau permintaan dari daerah mau dikirim ya kami siap,” jelas Ramli.

Dia menuturkan, dapur umum ini telah berdiri sejak sekitar dua pekan lalu. Pada awal banjir, aktivitas memasak berlangsung selama 24 jam tanpa henti.
Kini seiring kondisi yang mulai membaik, ritme kerja disesuaikan menjadi dua kali memasak dalam sehari—pagi dan siang. Meski begitu, kesiapsiagaan tetap dijaga.
Menurutnya, kualitas makanan menjadi hal yang tak bisa ditawar. Setiap masakan dicek dan dicicipi sebelum dikirim. Mulai dari bahan baku, alat masak, hingga proses pengemasan, semuanya diperhatikan dengan ketat.
Menu yang disajikan pun beragam, mulai dari telur dadar, tempe orek, acar, mie hingga sarden.
“Kita tester, kita coba, kita lihat kualitas kontrolnya juga, jangan sampai ada keracunan. Jadi pemilihan alat-alat juga kita istilahnya pakai QC lah ya, tidak sembarangan pakai,” kata Deden.

Dia menambahkan, kesibukan dapur umum ini juga tak lepas dari perhatian Bupati Karawang, Aep Syaepuloh yang kerap turun langsung meninjau dapur umum dan posko penanganan banjir.
Kehadiran seorang pemimpin, sambung dia, dinilai memberi semangat tersendiri bagi para petugas yang bekerja di balik layar.
“Kepemimpinan beliau itu benar-benar sangat berpengaruh untuk kami, tim. Jadi lebih aktif lagi, lebih giat lagi untuk membantu korban,” jelasnya.
Baca juga: Banjir Berulang di Perkotaan Karawang, DPRD Dorong Evaluasi Drainase hingga Sungai Citarum
Terpisah, Bupati Karawang, Aep Syaepuloh menegaskan kepada seluruh jajarannya agar terus turut memastikan bantuan bisa diterima oleh para korban banjir.
Dia menegaskan Pemkab Karawang akan komitmen mengupayakan segala persoalan, khususnya banjir bisa teratasi.
“Bismillah kita lalui permasalahan ini dengan lapang dada. Kami akan terus berikhtiar menyelesaikan satu-persatu permasalahan yang ada di Karawang,” tegasnya. (*)









