Beranda Berita Baik BERITA BAIK #2: Sebiasa Mungkin, Sebisa Mungkin (Ahmad Farid)

BERITA BAIK #2: Sebiasa Mungkin, Sebisa Mungkin (Ahmad Farid)

Melawan Covid-19 kadang-kadang terasa seperti jargon yang berat, dan jika kita mau jujur terasa agak digawat-gawatkan. Bukan berarti urusan Covid-19 ini tidak gawat. Ia memang gawat, tapi ada yang lebih gawat: cara elit kita berurusan dengannya. Ngomong-ngomong ketua BNPB kita mendadak pakai PDH TNI dan baret merah, alih-alih pakai rompi kerja BNPB seperti biasanya. Cuma tuhan yang tahu apa maknanya.

Dan kita mau tak mau, tetap berurusan dengan urusan yang sama… setiap hari.

Ini sudah lewat sebulan sejak social-distancing diumumkan. Beberapa daerah yang kamu biasa tuju mengalami eskalasi kebijakan dan menjadi PSBB. Aplikasi PeduliLindungi yang kamu aktifkan menunjukkan tanda kuning. Kartu Prakerja yang kamu ajukan belum tampak ujung terangnya. Gang-gang di kampung kamu mulai melintangkan palang dengan pos-pos pemeriksaan ala kadarnya—jika lagi rajin mengingatkanmmu pakai masker, jika sedang malas apalagi ini Ramadhan, leyeh-leyeh saja sudah bagus. Sebagian masjid di kampungmu masih tarawih berjamaah, sisanya memutuskan bertarawih di rumah.

Kini kamu scrolling instagram demi menghibur diri di antara urusan-urusan lain yang jauh lebih menyebalkan—sebab berimbas langsung pada kehidupan personalmu. Kamu yang belum lolos dari teleponan debt collector sebab relaksasi kredit, selain tak merata, ternyata nambah bunga juga; di grup wa pabrik/kantormu mulai mengembuskan aroma-aroma PHK; usahamu mandek total setelah seminggu dua minggu tetap memaksa buka dan cuma ngabisin biaya internet dan listrik saja; kamu dan pasanganmu mulai merasa saling was-was dan curiga, dan seterusnya, dan seterusnya…

Aku mau akui satu hal dulu—mungkin kamu juga mau—bahwa kekhawatiran kita pada orang lain tidak lebih penting dari kekhawatiran kita pada diri sendiri. Memanglah kawan-kawan ojol, tunawisma, dan buruh adalah yang paling terdampak, tapi tetap saja mengaku merasa tenang karena ada orang lain yang lebih menderita, adalah “ketenangan” yang tipu-tipu saja.

Pendeknya, ayolah ngaku kalau seruan “mari saling menguatkan” itu gagal menenangkan batin, meski buka puasa masih makan yang enak-enak dan opsi-opsi untuk uninstall media sosial masih ada.

Meski begitu ada saja yang mengundang takjub setelah lewat satu bulan ini…

Tiga hari lalu Anna dan pacarnya lamaran. Saya ingin bertanya, bagaimana ia dan partnernya tetap bisa menaruh harapan besar untuk menikah di masa seperti ini, sedang banyak sekali pasangan kekasih yang sangsi tahun depan bisa kencan atau tidak—iya kalau masih bersama dan pandemi ini berkahir, lah kalau putus duluan—namun saya tak bertanya, takut dia berceramah soal kekuatan cinta Florenta Ariza di “Love in Time of Cholera”, atau yang lebih bikin kesel: ia mengutp ayat “janganlah putus asa dari rahmat Allah”.

Widdy baru saja membuka kedainya lagi. Ia bilang sabisa-bisanya dapur musti ngebul. Malam pertama ada di sana pikiran saya cuma; apakah upaya macam ini disebut sebagai upaya tak simpatik? Kedai kopi, bagaimanapun memerlukan kerumunan—yang notabene adalah musuh utama Social Distancing. Saya tidak tanyakan itu, sebagaimana pengusaha lain yang tetap buka alasannya pasti tak jauh dari apa yang bisa kita harapin dari negara yang bicaranya berputar diantara kata “akan”, “bakal”, “nanti”, dan “semoga”.

Deri menghadiri pernikahan saudaranya, dan saya tidak bertanya apa-apa. Pepi masih menulis liputan, saya tahu bagaimana kecemasannya. Anak-anak pusjal Karawang menerbitkan buletin-elektronik, dan seorang kawan yang dulunya biasa nongkrong menggelar pusjal di suatu kota, rumahnya didatangi bapak-bapak yang nanyain di mana tongkrongan anarko Purwakarta.

Bapak saya dan DKM di masjid kampung kami sepakat tetap membuka masjid untuk sholat lima waktu, jumatan, tarawihan, dan tahlilan. Meski dengan tambahan praktek-praktek baru semisal pembersihan masjid dua hari sekali, jamaah yang bawa sajadah masng-masing.

Hal-hal terus bergulir, sudah sebulan saya tak mendapat pemasukan apapun, tabungan kandas untuk tagihan. Proyek-proyek bisnis mandek. Rasanya betul-betul terbanting berkali-kali. Banyak yang bernasib sama dengan saya, tapi saya tak bohong, kalau saya merasa terpuruk. Alh-alih tetap berdagang keahlian lain, saya malah uninstall media sosial seperti instagram dan facebook.

Meski begitu saya tetap takjub bahwa ada lini-lini kehidupan yang tetap dijalankan. Dalam masa yang paling mencemaskan, orang-orang tetap melakukan semuanya sendirian: sebiasa mungkin, sebisa mungkin.

Mungkin ada yang bisa kita pelajari di sini…

Sejarah berputar, kali ini dari tesis (pra-pandemi), lalu anti-tesis (awal sampai puncak pandemi), untuk bersintesis (akhir sampai pasca pandemi). Akan ada yang menyintas dan menang. Ada pula yang kalah dan ketinggalan, yang terseret-seret, lalu hilang diringkus zaman baru.

Sebagaimana orang sering ulang, akan ada kenormalan yang baru (a new normal) dan orang-orang sedang meraba bakal gimana bentuknya. Para pemikir menulis pilihan-pilihan, negara mengambil semua pilihan yang termurah dan termudah, sementara orang-orang di jalan menyabung nyawa atas pilihan-pilihan itu..

*

Ahmad Farid, dulu sering menangys. Sekarang tidak lagi setelah punya pacar. Pemred Nyimpang.com, eks founder Serikat Ayr Mata.

*

Ajakan berkontribusi dalam rubrik Berita Baik dan Kapsul Waktu di sini. Kirim tulisan ke redaksi@tvberita.co.id.