Beranda Berita Baik BERITA BAIK #3: Karena Membaca Adalah Sendirian

BERITA BAIK #3: Karena Membaca Adalah Sendirian

Sebuah kedai. Hanya sebuah kedai jika kaulihat dari kursi-kursinya yang dibuat dengan mandiri, menggunakan kayu, papan tipis, batang pohon, bahkan besi sekalipun yang rangka-rangkanya disatukan oleh keahlian las si pemilik. Di sana kau akan dihibur dengung nyamuk yang seringkali lewat bersamaan sesap kopi. Meski begitu, bila waktumu senggang cobalah nongkrong di sana sampai pagi, sampai kaulihat betapa seni melucu ditunjukan oleh barista dan pramusaji secara gratis. Semua mungkin dilakukan untuk menghibur pelanggan yang terkesan sendirian. Barangkali itu kau, calon tamu tetap yang seringkali kabur dari hubungan sosial atau terus meranakan diri gara-gara tak punya satupun partner kencan.

Sebuah kedai. Hanya sebuah kedai yang ramah sekali mengusir sunyi di telingamu dengan dengung nyamuk. Kulitmu memang akhirnya bertotol. Tetapi kerubung nyamuk yang memicu tanganmu meliar menepuk menghabisi perut-perut gendut hasil darah itu tak disangka juga menimbulkan bunyi-bunyian yang berhasil menggugur aura ketanpaan di sekelilingmu. Kau mesti bertahan dari kondisi itu. Sebab dalam buruknya pengelolaan bisnis, yang nantinya disinyalir jadi sejumlah alasan pelanggan pergi. Tempat itu didukung oleh banyak idealis. Berikut sejumlah aktivis yang mau-maunya membangun koridor berpikir kawula muda, atau anak-anak pilihan yang seringkali hanya dianggap serigala-serigala lepas dari kawanan.

Ketika kafe berserakan di kota ini, dengan jajanan asing dan harga kopi lima belas ribu. Menu di kedai itu kaya akan lokalitas. Seperti bandrek atau bandros yang bersanding kopi tubruk seharga delapan ribu. Menu yang sepele, tetapi berhasil mengingatkanmu pada dangau persawahan. Petani-petani yang berkumpul setelah seharian menekuni tanah.

Kedai itu seperti menolak kekinian, modernisme yang merambah lidah merambah produk kuliner yang kadangkala mesti berakhir pamer di media sosial.

Kau mengunjungi kedai itu di tahun 2016, sewaktu acara bincang buku PJK (Perpustakaan Jalanan Karawang) bersama Dian Hartati. Penyair dari Bandung sekaligus dosen di Unsika. Sendirian menyimak tanya jawab yang berasal dari buku Kelenjar Nira.

Salah satu anggota PJK mendatangimu dan menagih buku yang lumayan lama kaupinjam. Kau mengembalikan buku itu sambil terus menyendiri di bangku terjauh dari acara. Terasa tak pandai mencari kawan. Merasa malu nimbrung apalagi bertanya zaman sekarang apa sih yang penting dari puisi, apa yang penting dari puisi ketika sekolah-sekolah di Karawang lomba memasukkan lulusannya ke universitas negeri untuk dilebur jadi pegawai?

Ada tiga kata kunci. Kedai, PJK, dan puisi. Kesemuanya ialah wahana tanpa jam tutup. Ruang di mana imajinasi berkembang. Akar untuk menarikmu keluar dari empang, setelah kau memancing seharian lalu tak dapat apa-apa, dan memutuskan mencari sendiri ikan di kedalamannya.

Tiga tahun setelah pertama kali mengunjungi kedai. Kau terus berpulang ke situ. Menyaksikan sendiri kolektivitas dibangun. Orang-orang di sana semangat sekali mengadakan lokakarya anti mainstream, mengajarkan skill menjahit, membuat wadah lampu hias dari botol sirup dan botol bir, atau seperti yang membuatmu terkesan, mengadakan pelatihan untuk meneliti seberapa baik air sungai dalam menopang mahluk hidup di sekitarnya. Manusia, ikan, udang, bahkan laba-laba air.

Di kedai itu, panggung yang dibuat ala kadarnya, sanggup mendatangkan Jason Ranti, Tuan 13, Penyair Abinaya, dan sebagainya. Keterbatasan itu selalu mereka atasi. Kausuka dengan penampilan Tari Topeng dari Mang Hasan, di salah satu Perayaan Hari Bumi, begitupun bedah buku Melawan Arus. Buku berisi esai-esai yang mengupas subkultur punk islam beserta keberhasilan penulisnya, Aditya Abdurrahman a.k.a Mas Aik mencapai hijrah.

Kauingat di tiap inisiatif acara, barista serba bisa itu sering mengisi panggung. Lagu yang ia ciptakan dan menginspirasimu itu bunyinya begini;

baca, baca, baca, ayo kita membaca, karena membaca adalah melawan
baca, baca, baca, ayo kita membaca, karena membaca adalah melawan
tapi percuma saja kalau tidak menulis
tapi percuma saja kalau tidak menulis

Kausadar bagaimana Pandemi yang mampir 2020 lalu, tak sedikit pun menggoyang kreativitas barista itu. Bukan saja menghibur dengan melagukan puisi orang-orang melalui live Instagram, ia sukarela membantu mereka yang haknya tidak terpenuhi akibat wabah, dengan membuat #rakyatbanturakyat dan menyediakan nomor WA untuk pengaduan pemenuhan bantuan.

Sahabat-sahabat yang kaukenal di kedai itu berdaya dengan cara masing-masing. Misalnya kawan dari Aksi Kamisan yang melalui akun Instagram mengingatkan masyarakat akan bunyi sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Respons atas kasus Ferdian Paleka, prankster yang membagikan sembako batu dan sampah kepada transpuan, yang setelah tertangkap polisi, masih saja dirundung di dalam penjara.

Sedangkan, Daun jatuh Society mengajak masyarakat di rumah untuk mengisi waktu luang dengan membaca. Inisiatif itu terwujud dalam program Mengeja Pram. Mereka bersama komunitas baca di Karawang seperti Ruang Literasi, Teras Baca, dan PJK membacakan novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer, lewat podcast-nya. kerja-kerja seperti itulah yang membuatmu mau mencintai PJK.

Kau mungkin pernah bosan, membuat lapak baca gratis di Karang Pawitan. Menjaga PJK tetap bergiat karena followers IG telanjur banyak. Pernah mengutuk diri yang kurang pandai bergaul sampai-sampai teman dekat jarang datang.

Barista kedai itu agak keliru bernyanyi karena membaca adalah melawan sebab yang terjadi–mungkin lagunya diubah saja–membaca adalah sendirian. Kau hanya melapak. Tanpa ingin melawan apapun selain rasa malas dan kepandiran. Tanpa berharap apa-apa selain untuk lima tahun ke depan, ada seseorang yang gemar membaca dan rutin menulis untuk menyembuhkan dirinya karena terdorong mengapresiasi buku-buku setelah main ke PJK.

Apa yang kauingat dari lapakan buku itu menjadi stimulus untuk melebarkan gerak kolektivitas. Misalnya seorang korban PHK yang waktu itu mampir membaca, ia mau-maunya menyisihkan uang untuk gorengan, roti bakar, bergelas kopi mendermakan sedikit gajinya untukmu dan kawan-kawan. Ia menceritakan Ali Syariati sebagai pemikir yang lebih cergas dari tokoh-tokoh Eropa sekaligus menerangkan sedikit apa itu dialektika yang dibawa oleh Engels. Diam-diam kau merindukannya setelah ia pulang ke Solo dan nomor WA-nya tak lagi aktif.

Seseorang yang biasa kausebut pengunjung tetap, pernah membawa buku Ki Hajar Dewantara dengan usahanya membangun Taman Siswa. Ketika kautanyai ia tentang seberapa sering melakukan book shaming ia menjawab jika seringkali melakukannya. Kau tersadar waktu itu. Berpikir seperti DN Aidit, bahwa mereka yang mempunyai pengetahuan buku harus pergi ke kenyataan yang hidup, supaya bisa maju dan tidak mati mengeloni buku. Bukankah kenyataan yang hidup itu, di dalam buku yang hanya mengandalkan imajinasi dan daya khayal saja akan jarang didapat?

Teman-temanmu boleh saja bilang itu kegiatan sia-sia, menghabiskan waktu, tak menarik dan tak menguntungkan secara finansial. Bapakmu boleh saja bilang, “Cari kegiatan yang menghasilkan uang!” Tetapi haki yang mengalir di tubuhmu itu justeru menjadi arus oleh keinginan menjaga seorang pembaca. Menganggap dari seratus orang pengunjung PJK selama setahun ada satu bibit unggul yang mencintai buku, yang antusiasme membacanya sebagian terfasilitasi oleh koleksi buku PJK.

Biar bagaimanapun, membaca adalah gerbang seseorang untuk menjadi individu yang literat. Kau yakin proses menerima informasi, mengkritisi, mengkaji sampai menghasilkan informasi baru dalam pengalaman membaca akan terus berdampak positif untuk masyarakat.

Kau mungkin tertawa karena satu dua kawanmu yang kauanggap pegiat literasi itu ringan saja berkata, “Tugas kami bersenang-senang, minat baca bukan urusan kami!” Atau karena seseorang lainnya terus memakai baju PJK dengan tagline Membaca Kapan Saja Membuka Di Mana Saja tanpa melapak buku dan satu-satunya yang dibuka hanya peluang usaha, tetapi kesadaran bahwa maraknya kasus peraziaan buku akan berkurang seiring kegiatan membaca disadari oleh masyarakat sehingga kedunguan tak mencengkeram diri secara telak, membawamu ringan berkata ya, inilah tugas kami, inilah jalan bajak laut yang kami ambil!

Kau sedikit sentimental oleh kepergian banyak sukarelawan. Mereka yang oleh kesibukan dipisah dari kegiatan melapak, atau oleh rutinitas mencari nafkah di umur kesekian. Tetapi saking sendirinya, di lapakan, kadang ide-ide kaudapat. Seperti menyisipkan isu sosial ke dalam puisi. Mengajak serta ingatan komunal atas pembakaran hutan di dalam karyamu, atau, lagi-lagi lewat sastra, mengampanyekan pentingnya membawa realita kesenjangan di atas mimbar agama.

Kautumbuh, bukan saja dari karya-karya yang terus dimuat oleh media cetak dan digital. Tetapi dari kesempatan-kesempatan bertemu inspirator, pejuang literasi, aktivis HAM, guru, pecinta alam atau siapapun yang kebetulan mampir ke Das Kopi dan lapakan buku.

*

Oleh: Ilham Maulana, mahasiswa PBSI Unsika. Menangys adala jalan hidupnya~

*

Ajakan berkontribusi dalam rubrik Berita Baik dan Kapsul Waktu di sini. Kirim tulisan ke redaksi@tvberita.co.id.