Beranda Berita Baik KAPSUL WAKTU #1: Surat Untuk Masa Satu (untuk Rizki Andika)

KAPSUL WAKTU #1: Surat Untuk Masa Satu (untuk Rizki Andika)

Untuk Rizki Andika di tahun-tahun setelah wabah

Surat ini dutulis saat kelas online psikolinguistik di tengah malam. Masih sering lupa? Beberapa hal pasti masih belum selesai sampai sekarang. Suatu waktu mungkin kesempatan datang lagi. Sekarang mari kita cukupkan, apa yang belum terjawab, barangkali memang sebaiknya tidak terjawab. Apapun yang hilang untuk saat ini kita sudah berusaha.

Mau mundur sebentar?

Sebentar, bukan waktu yang lama kan?

Beberapa orang yang kita sayangi pergi, penyebabnya tentu mungkin saja adalah kita sendiri. Kalau kita sanggup mengingat beberapa momen, kita mungkin akan sampai pada “kayaknya kalau enggak gitu, gak akan gini deh sekarang”. Sudah sampai di sana? Wkwk

Apapun itu, kamu sudah mestinya selesai sekarang. Jangan lagi kamu boleh merasakan yang orang-orang sebut dengan “overthinking” berlarut-larut di balik pintu sembari mendengarkan lagu maju tak gentar. Selain gunung dan laut yang tak punya rasa, mungkin beberapa orang juga begitu, kan yang berubah bukan cuma cuaca. Bukannya kamu sendiri yang sering bilang kalau patah hati bentuknya gitu-gitu aja, lupa ya?

Siapapun yang meninggalkan kita (atau sekarang kamu menyesal karena aku enggak tulis namanya?), dengan tegap dan menengadah, menandai bintang-bintang yang sempat kalian miliki, kemudian meniupnya jauh seperti membuat hujan di suatu oase. Untuk itu semua, rahasia tetap diam, meski bergetar oleh suara yang kalian miliki. Meski kita mendengarkan lagu I Love You But I’m Letting Go – Pamungkas yang live di youtube seratus kali dalam satu hari, kita tidak boleh menyesal.

Nah, selain itu, apa pekerjaan kamu sekarang? Masih belum lulus? Atau diluluskan? Wkwk. Mustahil kalau kamu belum punya tempat kerja, paling ngga minimal kamu bisa berniaga. Kamu kan yang bisa-bisanya tiba-tiba ngomong “mau berniaga ah, biar makin deket di jalan nabi”. Bego wkwk. Anjing. Enggak ada akhlak.

Eh, kita sempat punya tawaran kerja di perusahaan gitu kan, inget enggak? Tapi kerjaan kita dinas ke luar kota mulu. Terus kamu cuma bilang “kalau emang rezekinya di sana, pasti kerja di sana”. Payah, padahal bilang gitu gara-gara belum lulus. Sekarang masih gitu nggak? Culun lo.

Kan engga ada salahnya juga kerja di tempat begituan. Temen-temen kita juga kan ada aja yang akhirnya begitu. Eh, pas di paragraf ini ya, citarum lagi naik, engga tinggi banget sih, cuma emang tinggi, sekarang citarum gimana?

Ngomong-ngomong suasana kamar masih belum berubah ya kayaknya, kadang kita emang perlu beneran mateng gitu, iya enggak sih, iya enggak?

Kayaknya udah kerja di pabrik ya lo? Berapa upahnya sekarang? Cukup buat penuhin keinginan mabo tiap malem ngga? Berhenti aja kalo ngga cukup. Bagus juga sih ya, amer yang sachet jadi lebih praktis, tinggal campur air dingin atau air panas. Kita kan sempet ingin hidup kaya Si Ujud ya, sebelum apa-apa minum anggur dulu. Ikut pelayaran ke sana sini, meski kena raja singa di bajak laut Bumbu Hitam, kita bisa sampai ke Lamuri, dan Anak Haram tetep mati, meski bukan di tangan kita.

Capek banget ya waktu kita beneran ngupas itu novel. Sampe pegel bacain ulang unsur-unsurnya, terus akhirnya cuma jadi catetan aja di rak buku kan. Eh, apa itu yang jadi skripsi kita nanti? Emang agak ribet ya mitos-mitosan, engga pas sama situasi yang kudu apa-apa di rumah.

Sampai juga kita di sini yah. Terlalu cepet sih, tapi ya gimana lagi. Kerabat kita, atau kita, bahkan siapapun, yang pada saat situasi itu berlangsung belum bisa maju satu langkah buat menerima kabar kematian.

Kita mungkin menjadi manusia baru setelah itu ya? Sempat bertahan untuk istirahat di emperan toko dengan memeluk foto kekasih. Beberapa kali mengutuk diri dan situasi, Tuparev yang kamu cintai menjadi gelanggang antara hidup atau matimu sendiri. Kamu bahkan sudah sulit memastikan mana sisa toko elektronik dan baju bayi.

Walaupun beberapa yang kita sayang pergi gara-gara pandemi, kita masih bisa menyayangi yang ada, membangun harapan dengan yang tersisa.

Kita perlu berhenti berandai muluk-muluk, kalau surat ini bisa sampai kamu baca, berarti manusia bisa bertahan dari apapun, kecuali yang dijanjikan Tuhan.

Beberapa hari sebelum menulis surat ini, ibu, ibu sungguhan, bertanya bagaimana nasib sekolah adik kita—saat ini mestinya persiapan masuk sekolah dasar—kalau pandemik tidak kunjung berakhir. Tapi kita cuma mampu tertawa. Susah ya jadi pelupa.

Kalau suatu waktu buku-buku di kamar emang perlu dijual, jangan marah. Itu cuma buku, kita bisa beli semua itu sekarang kan? Kalau sungguh benar-benar diperlukan, kita bisalah ngelakuin apa aja juga buat semuanya.

Sudah sampai di sini, sebenarnya kamu tahu ini sulit, kita sama-sama kurang pandai menerbak masa yang akan datang karena kita takut. Sampai sejauh ini pun kita cuma bisa geleng-geleng kepala aja. Dahlah, nanti surat-surat masa depan berikutnya kita tulis lagi. Kita harus belajar nulis satu topik yang jelas.

*

Ditulis oleh Rizki Andika, mahasiswa PBSI Unsika juga penyair flamboyan berhati lembut, untuk dirinya sendiri di masa setelah pandemi.

*

Ajakan berkontribusi dalam rubrik Berita Baik dan Kapsul Waktu di sini. Kirim tulisan ke redaksi@tvberita.co.id.