Beranda Headline Buntut Kasus Istri di Karawang Omeli Suami Mabuk, Aspidum Kejati Jabar Dinonaktifkan

Buntut Kasus Istri di Karawang Omeli Suami Mabuk, Aspidum Kejati Jabar Dinonaktifkan

KARAWANG – Viralnya penanganan kasus istri dituntut 1 tahun gegara omeli suami mabuk berbuntut panjang. Kejaksaan Agung (Kejagung) akhirnya turun tangan dan menonaktifkan Aspidum Kejati Jawa Barat.

Pasalnya, Kejagung menemukan adanya pelanggaran dalam penanganan perkara tersebut.

Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung Leonard Eben Ezer Simanjuntak mengatakan, dinonaktifkannya Aspidum Kejati Jabar untuk proses pemeriksaan fungsional.

Baca juga: Marahi Suami yang Doyan Mabuk, Istri Malah Dituntut 1 Tahun Penjara

“Khusus untuk Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, untuk sementara ditarik ke Kejaksaan Agung untuk pemeriksaan fungsional oleh Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum,” terangnya dalam Konferensi pers virtual, Senin (15/11/2021).

Berdasarkan eksaminasi khusus dari Kejaksaan Agung, para jaksa yang menangani perkara ini dinilai melanggar pedoman dalam penanganan perkara.

Eksaminasi dilakukan dengan mewawancarai sembilan orang baik dari Kejati Jabar, Kejari Karawang maupun jaksa penuntut umum (JPU).

“Temuan hasil eksaminasi khusus, dari tahap prapenuntutan sampai tahap penuntutan baik dari Kejaksaan Negeri Karawang maupun Kejaksaan Tinggi Jawa Barat tidak memiliki sense of crisis atau kepekaan,” kata Eben.

Dilansir dari detik.com, Eben menyatakan penanganan perkara itu juga tidak mengikuti pedoman nomor 3 tahun 2019 tentang tuntutan Pidana perkara tindak pidana umum. Sebagaimana ketentuan pada bab II angka 1 butir 6 dan 7 sambung Eben, bahwa pengendalian tuntutan pidana perkara tindak pidana umum dengan prinsip kesetaraan yang ditangani oleh Kejagung atau Kejaksaan Tinggi dilaksanakan oleh Kejaksaan Negeri harusnya tetap memprihatikan ketentuan butir 2,3 dan 4.

Kejagung juga mencatat JPU tak mengikuti pedoman nomor 1 tahun 2021 tentang akses keadilan bagi perempuan dan anak dalam perkara pidana. Termasuk tidak mempedomani tujuh perintah harian Jaksa Agung yang merupakan norma atau kaidah dan pelaksanaan tugas penanganan perkara.

Baca Juga :   Valencya Dituntut Bebas, Begini Komentar Kuasa Hukum Sang Mantan Suami

“Sehingga, mengingkari norma atau kaidah. Hal ini dapat diartikan tidak melaksanakan perintah pimpinan,” ujarnya.

Baca juga: Dituntut 1 Tahun Penjara Gegara Marahi Suami, Valencya: Saya Bukan Bunuh Orang!

Seperti diberitakan sebelumnya, Valencya dituntut satu tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang perkara kekerasan dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Karawang, Kamis (4/11) lalu.

Valencya tak habis pikir dia dituntut satu tahun penjara oleh jaksa penutut umum. Dia menyebut tindakannya memarahi suami itu karena kesal suaminya pulang selalu dalam keadaan mabuk, bahkan suaminya juga sempat enam bulan tidak pulang ke rumah.

“Suami mabuk-mabukan istri marah malah dipidanakan. Ini perhatikan para istri, ibu-ibu se-Indonesia, hati-hati tidak boleh marahi suami kalau suaminya pulang mabuk-mabukan. Harus duduk manis nyambut dengan baik, marah sedikit bisa dipenjara,” ucap terdakwa Valencya sambil menangis.

“Ini saya punya dua anak di rumah sebagai ayah sebagai ibu, dituntut setahun. Saksi ahli harus dihadirkan katanya engga hadir ternyata ada, banyak kebohongan dihukum ini,” tandasnya.

Artikel sebelumnyaKeren, UBP Karawang Sabet Juara 2 Iot Competition Tingkat Nasional
Artikel selanjutnyaMitsubishi Resmi Luncurkan New Xpander Cross dan New Xpander Secara Virtual