Beranda Headline Hari Santri Nasional 2019: Sarungan Ciri Khas Islam Nusantara

Hari Santri Nasional 2019: Sarungan Ciri Khas Islam Nusantara

PURWAKARTA, TVBERITA.CO.ID– Puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) di Purwakarta berlangsung meriah. Menurut Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika, peringatan HSN tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

 

“Hari ini di Purwakarta merayakan hari santri yang ke 3 tahun. Perayaan hari ini sedikit berbeda seperti tahun sebelumnya, ada rangkaian–rangkaian kegiatan hari santri seminggu kemarin. Mulai dari tanggal 12 oktober sampai kemarin,” ujar Anne saat memperingati acara puncak HSN di Taman Pasanggrahan Padjajaran Purwakarta, Selasa (22/10/2019).

Bupati Anne menjelaskan, rangkaian HSN ini tidak hanya diperingati dengan kegiatan upacara saja, melainkan dengan adanya kegiatan–kegiatan lainnya.

“Pada hari santri sekarang, kita adakan perlombaan mulai dari MQK (Kitab safinah, taqriv, fathul muin, alfiyah ibnu malik), cipta puisi, photografi, porseni dan defile santri. Selain itu kemarin (senin, 21 Oktober 2019) kita melaksanakan shalawat dan dzikir bersama,” Jelas Anne.

Selain itu, Kapolres Purwakarta AKBP Matrius mengapresiasi kegiatan hari santri nasional yang didukung penuh pemerintah Kabupaten Purwakarta.

“Sangat meriah, Kegiatan hari santri di Purwakarta sungguh luar biasa dimana seluruh kegiatan santri dan ulama, didukung penuh oleh pemerintah kabupaten purwakarta dan TNI-Polri. Sekarang ciri khas sarungan tidak hanya di pakai lokal, tapi Presiden pun memakai sarung, yang merupakan ciri khas islam nusantara,” Kata Matrius.

Di tempat yang sama, Rais Suriah PCNU Kabupaten Purwakarta KH. Abun Bunyamin mengatakan, santri–santri di Indonesia saat ini sudah semakin hebat dan tidak ketinggalan jaman.

“Kami selaku Rais Suriah PCNU Purwakarta menyampaikan terimakasih kepada bupati dan semua pihak yang telah mensupport langsung kegiatan hari santri nasional. Dengan semakin majunya jaman semakin hebatnya keadaan maka santri sekarang ada istilah nya yakni santri millennial, sekarang sudah tidak ada lagi istilah santri kampungan, sekarang banyak pejabat, orang kaya yang ana –anaknya mondok di pesantren,” ucap KH. Abun Bunyamin.

Ia berharap, kedepannya masyarakat untuk tidak ragu mengirim anak-anaknya mondok di Pesantren.

“Kami berharap kepada seluruh masyarakat untuk tidak ragu memasukkan anaknya ke pesantren, karena santri sekarang tidak hanya belajar agama saja tapi belajar ilmu pengetahuan lainnya,” Harapnya. (hms/kb)