Beranda Headline Mediasi Deadlock Lagi, PT Tsuzuki Tidak Mengabulkan Permintaan 4.000 Massa

Mediasi Deadlock Lagi, PT Tsuzuki Tidak Mengabulkan Permintaan 4.000 Massa

TVBERITA.CO.ID, KARAWANG – Mediasi yang dilakukan antara perwakilan perusahaan PT Tsuzuki Indonesia Manufacturing, dan perwakilan 4.000 massa dari unsur LSM berakhir buntu.
4.000 massa aksi dari elemen LSM GMBI Distrik Karawang, LSM Laskar NKRI, LSM BPPKB Banten, dan FKKPI mengepung PT Tsuzuki, di kawasan industri KIIC, Kamis (9/5). Mereka menuntut pengusaha luar Karawang tidak melakukan monopoli di kawasan industri Karawang.
Dalam upaya mediasi, perwakilan massa meminta perusahaan bisa bekerja sama dengan pengusaha lokal, sebab, pengusaha lokal yang paling memenuhi persyaratan kerja sama.
Massa aksi meminta perusahaan memposisikan pengusaha lokal sederajat. “Akan terjadi uang yang terbang keluar karena pengusaan berbagai sektor dimiliki oleh pengusaha luar. Saya ingin penguasaan yang sederajat sehingga kami tidak mati di lumbung padi kami sendiri,” kata kuasa hukum LSM GMBI, Dadi Mulyadi.
Mediasi jadi buntu ketika perusahaan tidak bisa memenuhi tuntutan massa dengan berbagai alasan. Perusahaan beralasan, pemindahan kerja sama harus atas persetujuan pengusaha sebelumnya karena kontrak kerja sama dipayungi aturan desa.
Jalan buntu itu coba dipecahkan di pertemuan selanjutnya. Dijadwalkan, perwakilan perusahaan dan perwakilan massa akan kembali bertemu Rabu depan.
“Kalau hari Rabu tidak ada penyelesaian, Seninnya kami akan datang lagi dengan massa yang lebih besar. Kami masih santun, tidak ekstrem, tidak anarkis. Tapi bila pertemuan selanjutnya masih deadlock, kami tidak akan santun lagi,” kata Ketua Distrik LSM GMBI, Dewa Sena kepada wartawan.
“Jelas, hari ini perusahaan dimonopoli pengusaha luar. Itu tidak bagus. Sudah tidak zaman adanya monopoli. Harapannya ada pembagian. Harus ada regulasi yang membagi ini sama rata. Tapi, perusahaan tetap harus memprioritaskan pengusaha lokal,” sambung Dewa.
Kekecewaan ini bermula saat pengusaha lokal ingin membuka kerja sama dengan PT Tsuzuki Indonesia Manufacturing lantaran kontrak kerja sama dengan pengusaha sebelumnya sudah habis. Namun, tiba-tiba muncul perpanjangan kontrak baru.
Perpanjangan kontrak baru ini menimbulkan polemik. Upaya mediasi pertama menemui jalan buntu sehingga berbuntut aksi demonstrasi. Seperti yang pertama, mediasi kedua pun menemui jalan buntu. (fzy)

Komentar Facebook