Beranda Headline Penyebab Terjadinya Banjir Bandang di Karawang Selatan

Penyebab Terjadinya Banjir Bandang di Karawang Selatan

Kejadian banjir bandang pada malam 26/04 di Desa Cintalaksana pada Jalan Raya Loji–Parakan Badak karena jebolnya tanggul sungai menjadi peringatan bagi kita semua.

Peringatan bahwa masyarakat Pegunungan Sanggabuana sangat rentan terdampak bencana banjir bandang akibat curah hujan tinggi.

Menurut laporan yang diterima ada 3-6 motor yang terparkir terbawa arus bandang hingga ke persawahan di dekat Sungai Cigeuntis. Dan dampak lainnya jalan raya penghubung satu-satunya terputus karena banjir bandang yang sesaat namun berdaya rusak tinggi.

Banjir bandang yang terjadi di Kampung Cipeuteuy Desa Cintalaksana pada malam tersebut, terjadi karena tanggul buatan di Sungai Cibonteng dan Cikumpeni jebol. Sehingga menerjang jalan raya Loji – Parakan Badak, banjir bandang terjadi sesaat namun berdaya rusak tinggi sehingga menjadi bencana daerah (Kabupaten Karawang). Kejadian bencana ini harus menjadi peringatan pada kita semua bahwa potensi bencana banjir bandang begitu besar di Pegunungan Sanggabuana.

Kronologi terjadinya banjir bandang disebabkan curah hujan yang begitu tinggi semenjak sore hari (Jumat 26/04) di Pegunungan Sanggabuana. Curah hujan pada pukul 17:00 wib (26/04) di Pegunungan Sanggabuana berkisar antara 10 – 20 mm. Hingga pukul 22:00 wib curah hujan semakin ekstrim hingga berkisar antara 20 – 60 mm, dan curah hujan ektsrim tersebut hampir merata disemua Pegunungan Sanggabuana mulai dari Desa Medalsari – Kec.Pangkalan sampai Desa Kutamaneuh – Kec.Tegalwaru.

Curah hujan berangsur normal pada tengah malam (00:00 wib 27/04) dikisaran 1 mm hingga pagi menjelang. Curah hujan yang ekstrim dengan lerengan yang curam di Pegunungan Sanggabuana menjadi factor terjadinya banjir bandang di Kampung Cipeutuey Desa Cintalaksana Kec.Tegalwaru Kab.Karawang. Lereng yang curam dapat mengantarkan larian air (runoff) kedaerah yang lebih landai, dan potensi tampungan aliran didaerah landai menjadi factor penentu terjadi atau tidaknya banjir bandang.

Jika dilihat 120-140° (derajat dari utara) lokasi kejadian banjir bandang, memiliki kecuraman lereng +50% (curam). Dan 150-170° (derajat dari utara) lokasi kejadian memiliki kecuraman +49% (berbukit), serta 50-70° (derajat dari utara) lokasi banjir bandang memiliki lerengan +30% (berbukit). Sementara hulu dari Sungai Cibonteng dan Cikumpeni sendiri berarah 120-170° (derajat dari utara), berasal dari Gunung Dindingari yang memanjang dari Gunung Cadas Malang hingga Puncak Sempur.

Kondisi saat ini lerengan Pegunungan Sanggabuana arah dari Gunung Dindingari memiliki permasalahan kawasan yang rumit karena ketidak jelasan tata ruang. Didaerah tersebut banyak dibangun wisata buatan (non alam), dan perkebunan yang massif dengan mengasimpangkan kondisi lereng yang curam. Padahal lerengan diatas 40% harus masuk zona konservasi untuk mengurangi risiko longsor dan banjir bandang, sedangkan lerengan diatas 20% masuk zona penyangga. Dan 20% kebawah baru masuk zona budidaya yang bisa dibangun wisata buatan dan perkebunan, idealnya seperti itu.

Dua factor tersebut (curah hujan dan kecuraman lerengan) adalah beberapa factor terjadinya banjir bandang, namun untuk mengurangi risiko alangkah baiknya mencegah daripada menanggulangi. Bayangkan jika yang terputus oleh bencana banjir, bandang atau longsor adalah Jalan Raya Badami – Loji, maka akses untuk membantu masyarakat terdampak akan terputus total. Karena saat ini Jalan Raya Badami – Loji adalah satu-satunya akses tercepat kearah Selatan Karawang, jika terjadi rentetan bencana di Tegalwaru dan Pangkalan maka BPBD akan kesulitan sampai kelokasi.

Saran untuk Pemerintah Kabupaten Karawang yang sudah memiliki Perda (Peraturan Daerah) Penanggulangan Bencana, diharapkan segera membuat Rencana Penanggulangan Bencana Daerah (RPB). Sehingga kejadian-kejadian serupa serta kejadian-kejadian bencana yang tidak diharapkan diwilayah Kabupaten Karawang dapat ditangani secara maksimal oleh seluruh komponen penanggulangan bencana. Serta Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Karawang yang saat ini tengah melakukan Revisi terhadap RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) dapat memasukkan factor-faktor potensi bencana diberbagai wilayah Kabupaten Karawang. Agar dapat tertangani serta dikurangi risikonya sebelum terjadi atau menjadi lebih besar lagi.

Keterangan : Ditulis oleh Willy Firdaus yang aktif di LSM (Lingkungan) FORKADASC+ (Forum Komunikasi Daerah Aliaran Sungai Citarum) Karawang, dan juga akademisi Manajemen Bencana di UPN Veteran Yogyakarta.

Komentar Facebook