Beranda Headline Program Internsip Dokter Indonesia Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

Program Internsip Dokter Indonesia Dilindungi BPJS Ketenagakerjaan

JAKARTA, TVBERITA.CO.ID- Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) melalui Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDMK) Kemenkes RI, Jakarta Selatan dilindungi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.

 

Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Jakarta Sudirman, Erni Purnamawati, mengungkapkan, program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia.

Proses pemantapan mutu profesi dokter, imbuh dia, untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan.

”Kami memberikan apresiasi atas kepesertaan Badan PPSDMK Kemenkes RI yang selalu antusias dalam mendaftarkan Dokter Internsip,” ujar Erni, Rabu (27/2/2019).

Erni menjelaskan, sejak Agustus tahun 2016 hingga saat ini Badan PPSDMK Kemenkes RI telah mendaftarkan 32.000 Dokter Internsip yang ditugaskan di seluruh Indonesia.

Tidak hanya pada saat bekerja, lanjut dia, namun BPJS Ketenagakerjaan juga melindungi para Dokter saat perjalanan menuju tempat kerja hingga pulang kembali ke rumah.

“Manfaat program BPJS Ketenagakerjaan, telah dirasakan langsung oleh para Dokter ada yang mengalami Kecelakaan Kerja, bahkan ada yang meninggal dunia pada saat bertugas,” ungkap Erni.

Tercatat pada Juli 2017 dan Mei 2018, dua orang dokter yang ditugaskan di Palembang dan Semarang meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas, dalam hal ini BPJS Ketenagakerjaan langsung memberikan hak ahli waris dokter intersip sebesar Rp151.080.000 per orang untuk santunan Kecelakaan Kerja Meninggal Dunia.

Tidak hanya itu, BPJS Ketenagakerjaan telah memberikan santunan Jaminan Kematian kepada Ahli Waris untuk dokter internsip yang meninggal dunia karena sakit atau bukan karena kecelakaan kerja sebesar Rp. 24.000.000 per orang, dua orang dokter meninggal dunia di Jakarta, satu orang di Sumatera Barat, satu orang Surabaya dan satu orang Bali.

“Ya, kami akan terus memantau perkembangan jumlah dokter yang sedang menjalani PIDI, karena kami menilai resiko yang dihadapai oleh para dokter sangat tinggi, apalagi dokter-dokter ini kan berhadapan langsung dengan pasien tentunya harus tenang dalam bekerja, salah satunya dengan telah terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan,” lanjut Erni.

“Kami berharap Kemenkes RI mendaftarkan seluruh tenaga kerja yang berada dibawah naungannya, tidak hanya dokter internsip, tapi juga seperti tenaga kerja Nusantara Sehat, Wajib Kerja Dokter Spesialis dan Non ASN lainnya,” imbuhnya.

Erni menambahkan, sebelum penempatan dinas, Dokter Internship diberikan pembekalan khusus tentang Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang diselenggarakan oleh BPJS Ketenagakerjaan.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendayagunaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Dalam Negeri, Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, dr. Mawari Edy, M.Epid nyampaikan, program BPJS Ketenagakerjaan memberikan manfaat besar bagi pesertanya.

“Selain iurannya murah dan juga manfaatnya sangat jelas dan besar, klaimnya sangat mudah. Hal ini membuat kami sehati dengan BPJS Ketenagakerjaan, “ cetusnya Edy saat ditemui di Ppsdm Kesehatan.

Program BPJS Ketenagakerjaan terdiri dari Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP).(wrk/kb)

Komentar Facebook