Beranda Headline Protes Dugaan Pungli di SDN Adiarsa Timur II, Dua Siswa Malah Dipindah...

Protes Dugaan Pungli di SDN Adiarsa Timur II, Dua Siswa Malah Dipindah Paksa

KARAWANG, TVBERITA.CO.ID – Pendidikan memiliki peran penting dalam membangun karakter penerus bangsa. Karena, di dalam pendidikan banyak terdapat bekal pengetahuan maupun nilai dan moral.

Pendidikan akan berjalan dengan baik jika semua elemen seperti pemerintah, pengajar, maupun masyarakat melakukan sinergi dengan baik. Keberhasilan pemerintah dalam menerapkan sistem pendidikan tentunya juga turut mewarnai keberhasilan pendidikan di Kabupaten Karawang itu sendiri.

Akan tetapi sayang, lagi-lagi, bahkan bisa dipastikan setiap tahunnya, dunia pendidikan di Kabupaten Karawang tak pernah surut dengan maraknya dugaan pungutan liar (pungli) di sekolah-sekolah, baik dasar, menengah dan atas/ kejuruan .

Tentunya ini menjadi satu dari sekian banyak potret buram dunia pendidikan yang ada di Kabupaten Karawang.

Ironisnya bahkan, pungutan-pungutan tersebut menimbulkan peta konflik di antara orang tua siswa dengan guru ataupun pihak komite sekolah.

Betapa tidak, pungutan sebesar Rp30 ribu rupiah untuk pembayaran menebus rapot siswa/siswi oleh pihak sekolah, kenyataannya membuat sejumlah orang tua siswa ternyata merasa keberatan dengan pungutan tersebut.

Meski dalihnya, hal itu sudah didasari kesepakatan bersama seluruh orang tua atau wali siswa tanpa ada satu pun pihak yang berkeberatan.

Salah satunya adalah Sella (35 tahun), orang tua siswa yang kedua anaknya bersekolah di SDN Adiarsa Timur II, Kecamatan Karawang Timur Kabupaten Karawang.

Hanya karena tak terima dirinya (Sella) melaporkan adanya pungutan disekolah sebesar Rp30 ribu. Tanpa alasan yang jelas pihak sekolah secara sepihak mengancam akan memindahkan kedua anaknya dari sekolah tersebut.

Sella orangtua siswa mengaku bahwa dirinya baru menerima surat pemindahan kedua anaknya yaitu Zahira Ashilah Khairunnisa , kelas II dan Reishafy Nurul Asri, kelas IV dari pihak sekolah.

Padahal diungkapkan Sella, pengeluaran ataupun pemindahan siswa dari sekolah tidak bisa dilakukan jika tanpa adanya pengajuan dari orangtua siswa itu sendiri.

“Saya merasa aneh juga kenapa kedua anak saya dipaksa harus pindah dari sekolah ini, saya tidak membuat pengajuan pemindahan,” ungkapnya lemah, tak bisa menutupi kesedihannya sebagai seorang ibu.

Terbata-bata, Sella melanjutkan perkataannya, ia menduga alasan pihak sekolah mengeluarkan kedua anaknya yang duduk di bangku kelas II dan IV tersebut, karena sella mengadukan tindakan sekolah ke Saber Pungli.

Dan menurutnya, jelas bahwa pihak sekolah melakukan pungutan kepada siswa tanpa adanya musyawarah dengan orangtua siswa terlebih dahulu.

“Pungutan Rp30 ribu, kata wali kelas II peruntukannya Rp7 ribu untuk Kepsek pribadi yang Rp5 ribu katanya untuk biaya akreditasi sekolah, dan Rp18 ribu untuk guru dan biaya print. Dan gara-gara saya melaporkan, kenapa anak saya yang dipindahkan dari sekolah ini,” sesalnya, kepada tvberita, Jumat (7/2).

Sementara itu, Kepala SDN Adiarsa Timur II, Rukmini mengaku bahwa memang ada pungutan sebesar Rp30 ribu yang dilakukan sekolah.

Tak hanya itu, Ia juga membenarkan, jika dirinya sudah mengeluarkan surat pemindahan kedua siswanya dari sekolah yang dipimpinnya itu.

“Iya saya melakukan pungutan dan mengeluarkan surat pemindahan atas dasar permintaan dari orangtua siswa lain dan nama siswa tidak terdaftar di dapodik,” akunya beralasan.

Herannya, Kordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Karawang Timur, Udin yang hadir dalam kumpulan justru nampak membela keputusan pihak sekolah. Bukannya menjembatani antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, ia seolah mendukung Kepala Sekolah mengeluarkan secara sepihak anak-anak yang tidak bersalah atau tidak tahu apa-apa itu.

Meski memang ia meminta kepada pihak sekolah untuk mengembalikan uang pungutan tersebut. Namun bagi dia masalah pemindahan (siswa) tersebut berdasarkan hasil permintaan pihak sekolah yang merupakan suara orangtua siswa.

“Surat pemindahan sudah diberikan ke orangtua siswa, pemindahan siswa juga berdasarkan dari permintaan banyak pihak,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Tim Saber Pungli Karawang, Mutiara yang hadir dalam acara kumpulan tersebut membela Sella (Orang Tua Siswa).

Ditegaskannya, bahwa tidak ada aturan memindahkan siswa berdasarkan hasil dari keputusan sekolah, apalagi tanpa adanya persetujuan atau pengajuan dari orangtua siswa yang bersangkutan.

“Ini jelas salah, jangan sampai anak atau siswa yang jadi korban. Masalah pungutan di sekolah juga salah karena melanggar aturan dan tidak berdasarkan musyawarah,” tandsanya.

Lugas ia menegaskan kembali, pihak sekolah jelas salah karena sudah mengeluarkan surat pemindahan siswa secara paksa. Masalah dapodik juga sudah ia periksa, hasilnya nama siswa tersebut juga terdaftar di dapodik.

“Ini sekolah sudah tidak bener, kacau saya kira. Soal dapodik, ini mah akal-akalan sekolah saja benci sama orangtua siswa, anak yang di sekolah jadi korban,” tegasnya menyesalkan. (nna/kie)

 

Keterangan: berita ini sudah diralat, per hari Sabtu (8/4/2020)