Selasa, 14 Agustus 2018

Susu Impor Dominasi Pasar Indonesia

BANDUNG,TVBERITA.CO.ID.- Lebih dari 75 persen kebutuhan susu dalam negeri dipenuhi secara impor. Padahal, konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia tergolong rendah, hanya 12 liter per orang per tahun.

Ketua Koperasi Peternakan Bandung Selatan (KPBS), Aun Gunawan, mengatakan, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri mencapai 3,7 juta ton per tahun.

Produksi peternak lokal hanya mampu memenuhi sekitar 23% kebutuhan atau sekitar 852.000 ton.

"Sisanya, sekitar 2,8 juta ton atau sekitar 77% masih mengandalkan bahan baku impor," katanya, di Bandung, Kamis 19 Juli 2018.

Padahal, menurut dia, dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Umumnya konsumsi susu per kapita di negara-negara ASEAN mencapai lebih dari 20 liter per kapita per tahun.

Ia menilai, diperlukan upaya untuk menggenjot supply dan demand susu di Indonesia. Dari sisi supply, menurut dia, peternak lokal memerlukan insentif untuk menggenjot produksi susu dan di sisi lain masyarakat perlu mendapatkan edukasi untuk meningkatkan konsumsi susu.

"Untuk menggenjot supply, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, peternak memerlukan dukungan dalam bentuk pasokan hijauan pakan dan bibit berkualitas," ujarnya.

Peternak, menurut dia, juga memerlukan kepastian pasar, salah satunya kapasitas serapan industri pengolahan susu (IPS). Serapan IPS tentu bergantung pada tingkat permintaan pasar.

Aun mengatakan, kehadiran berbagai isu di pasar susu beberapa waktu terakhir, salah satunya terkait susu kental manis (SKM), cukup memberatkan industri. Kondisi tersebut, menurut dia, pada akhirnya berdampak pada demand susu segar lokal yang merupakan salah satu bahan baku SKM.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, mengatakan, susu segar dari peternak lokal yang diserap industri pengolahan susu (IPS), salah satunya diolah menjadi susu kental manis (SKM). Dengan demikian, ketika pasar SKM terganggu, maka serapan susu segar dari peternak juga akan terganggu.

"SKM diproduksi dari bahan dasar susu segar yang diserap dari ribuan sapi perah milik para peternak lokal di berbagai daerah di Indonesia. Ketika pasarnya terganggu, pendapatan peternak juga akan menurun," tuturnya.

Corporate Affairs Director, PT Frisian Flag Indonesia (FFI), Andrew F. Saputro, juga mengaku berharap, polemik terkait SKM akan segera berakhir. Ia mengatakan bahwa dalam menghasilkan produk, IPS akan berpaku pada regulasi yang berlaku, baik SNI, BPOM maupun Codex.

Menurut dia, saat ini kapasitas produksi pabrik SKM di dalam negeri mencapai 812.000 ton per tahun. Total nilai investasinya mencapai Rp 5,4 triliun dan total serapan tenaga kerja sebanyak 6.652 orang.(Pikiran Rakyat/bk)