Senin, 10 Desember 2018

Air Bendungan Barugbug Menghitam, NU Karawang Geram

 KARAWANG, TVBERITA.CO.ID- Air Sungai Cilamaya dan Bendungan Barugbug yang terletak di Kecamatan Jatisari Kabupaten Karawang kembali menghitam dan berbau. Kondisi tersebut membuat masyarakat sekitar bendungan mengalami mual dan pusing-pusing.

 

"Bau busuk yang berasal dari air bendungan sangat menyengat. Kami merasa mual dan pusing-pusing karena terus menerus harus menghirup udara tak sehat itu," ujar Agus, warga Desa Situ Dam, Kecamatan Jatisari, yang rumahnya tidak jauh dari bendungan tersebut, Rabu 24 Oktober 2018.

Menurutnya, perubahan warna dan penurunan kualitas air bendungan terjadi sejak Selasa 23 Oktober 2018 malam. Bahkan hingga Rabu, warna air bendungan masih berwarna hitam dan berbuih banyak.

"Saat tercium aroma tak sedap menyergap hidung, kami sudah bisa memastikan air bendungan kembali tercemar limbah industeri. Kami sudah mengalami hal ini puluhan tahun," katanya.

Sementara itu, sejumlah aktivis yang tegabung dalam Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU), mengaku geram melihat air Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya yang kembali tercemar limbah. Mereka meyakini sejumlah pabrik di kawasan hulu Sungai Cilamaya kembali membuang limbah cairnya tanpa diolah terlebih dahulu.

Dian Nugraha dari LPBI NU, mengungkapkan kecurangan kalangan industri di hulu Sungai Cilamaya sudah dilakukan selama 20 tahun. Mereka sengaja membuang limbah cairnya ketika hulu Sungai Cilamaya diguyur hujan.

"Saat hujan turun, mereka langsung menggelontorkan limbah ke aliran Cilamaya dengan harapan air limbah tercampur air hujan," kata Dian.

Pada Selasa malam wilayah hulu Sungai Cilamaya memang diguyur hujan, dan dia menilai hal itu kembali dimanfaatkan kalangan industri nakal.

"Ini buktinya, air bendungan kembali hitam dan berbau," ucap Dian kesal.

Dalam kesempatan itu, Dian juga mengungkapkan kekesalannya kepada pihak Dinas Lingungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan DLHK Subang yang saling melempar tanggung jawab dalam hal tersebut.

"Masyarakat Karawang ini kebagian sialnya. Pabrik pembuang limbah ada di Subang dan Purwakarta. Tapi yang merasakan dampak buruknya, warga Karawang," ujarnya.

Ia mengatakan, LPBI NU telah melaporkan pencemaran air ke DLH Provinsi. Menurutnya, yang harus menindak perusahaan nakal adalah DLHK Subang atau Purwakarta karena lokasi pabrik ada di wilayah kerja mereka.

Dia pun menyesalkan tanggapan DLHK Subang dan Purwakarta yang malah menyerahkan hal itu ke Provinsi.

"Kami berharap DLHK Karawang ikut bergerak dalam masalah ini. Sebab yang menderita adalah masyarakat Karawang," katanya.(KB)

 

MORE

Dalam Era Revolusi 4.0, Paradigma Perlindungan Pekerja Perlu Diubah

Dalam Era Revolusi 4.0, Paradigma Perlindungan Pekerja Perlu Diubah

JAKARTA, TVBERITA.CO.ID- Selain berdampak trehadap perubahan model bisnis, perke...