Minggu, 17 Desember 2017

PEDULI INAH.Tinggal Sebatang Kara di Gubuk, Bupati Karawang Diminta Peduli Terhadap Nasib Nenek Inah PEDULI INAH.Tinggal Sebatang Kara di Gubuk, Bupati Karawang Diminta Peduli Terhadap Nasib Nenek Inah Foto Dede

Bupati Karawang Diminta Peduli Terhadap Nasib Nenek Inah Featured

JATISARI, TVBERITA.CO.ID- Setiap hujan turun besar di wilayah Kecamatan Jatisari, Nenek Inah yang tinggal di Bantaran Sungai Cilamaya, Kecamatan Jatisari merasa was-was dan ketakutan. Pasalnya, posisi gubuknya percis dipinggir salah satu kali yang berdekatan dengan Sungai Cilamaya di wilayah Dusun Karajan RT 03/01 Desa Cirejag, Kecamatan Jatisari.

Nenek Inah, hidup sebatang kara karena kedua anaknya sudah lama meninggal dunia. Menurut pengakuan Nenek Inah, Kamis(15/11) bahwa berasal dari Tegal Amba Pakopen Cengkong Karawang. Ia sudah tinggal di Bantaran Kali berdekatan dengan Sungai Cilamaya Cirejag Kecamatan Jatisari selama 20 tahun.

Ia berharap ada uluran tangan dari berbagai pihak agar gubuknya dipindahkan dari pinggir kali. Karena merasa ketakutan jika air Sungai Cilamaya meluap sampai kedaratan.

"Yah saya takut sekali jika hujan besar. Karena air sungai dan kali merendam gubuk saya. Saya hidup sebatang kara. Sebab anak saya sudah meninggal puluhan tahun yang lalu. Jadi saya hidup dari belas kasih warga sekitar," ungkapnya.

Dikatakan Nenek Inah, kehidupan seperti sekarang yang dirasakan sebenarnya tidak Ia diinginkan. Sebab ia ingin punya rumah layak huni tapi kondisi keuangan tidak memungkin. Ia menceritakan kondisi perjalanan hidup dan takdir harus dijalani dengan sabar dan ikhlas.

"Saya tidak mau tinggal di bantaran pinggir kali dan sungai. Tapi apa boleh buat. Keadaanlah yang membuat saya harus bertahan setiap hari disini dalam ketakutan saat turun hujan besar," ucapnya sambil meneteskan air mata.

Sementara Ketua RW Karajan RT 03/01 Ali Sumarna mengatakan, bahwa kehidupan Nenek Inah itu sudah sebatang kara. Ia tinggal digubug yang berada di pinggiran kali dan Sungai Cilamaya sudah puluhan tahun.

"Yah kalau kalau tidak salah sudah 20 tahun lebih. Ia tinggal dipinggir bantaran Kali dan Sungai Cilamaya. Kita juga dari unsur Pemerintahan Desa Cirejag akan berupaya untuk memindahkan gubuknya ditempat yang lebih aman," katanya.

Dikatakan Ali, warga sekitar juga merasa was-was jika hujan besar di malam hari. Dikwahtirkan gubuk yang didiami Nenek Inah terbawa arus air deras. Pasalnya, jika air Cilamaya meluap sangat deras sekali. Untung saja masih banyak pohon besar dibantaran kali dan Sungai Cilamaya. Sehingga gubuk Nenek Inah masih bertahan.

"Sudah lama kita membujuk Nenek Inah untuk pindah. Tapi ia tetap ingin bertahan di tempat itu. Alhamdulillah sekarang ia mau dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Tinggal mencari tempat atau lahannya sebab selama ini tinggal ditanah Pengairan Jatisari," paparnya.

Senada disampaikan ketua RT 03/01 Dusun Karajan Desa Cirejag, Darsawandi. Ia meminta kepada Pemkab Karawang agar memberikan uluran tangan untuk membantu Nenek Inah. Sehingga ia dapat hidup layak dan mempunyai rumah layak huni.

"Kalau sekarang itu bukan rumah tapi gubuk. Ukuran 2 meter kali 2 meter, cukup hanya untuk tidur saja. Pokoknya tidak layak untuk dihuni oleh kehidupan warga Karawang. Saya berharap Bupati atau Wakil Bupati Karawang peduli terhadap nasib Nenek Inah sebab ia tidak punya tempat tinggal yang layak," singkatnya.(dej/ris)

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.