Beranda Headline Jangan Anggap Sepele Perut Buncit, Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Metabolik

Jangan Anggap Sepele Perut Buncit, Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Metabolik

Perut buncit penyakit metabolik
Ilustrasi perut buncit. Dok: istimewa

KARAWANG — Perut buncit kerap dianggap sebatas persoalan penampilan. Padahal, penumpukan lemak di area perut bisa menjadi tanda adanya gangguan metabolik yang dalam jangka panjang berisiko memicu berbagai penyakit serius, mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, hipertensi, penyakit jantung hingga fatty liver.

Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital, dr. Indra Alexandra, Sp.PD, MMRS, mengatakan perut buncit perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan penumpukan lemak viseral atau lemak yang berada di sekitar organ dalam.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut. Perubahan gaya hidup, pola makan serba instan dan minimnya aktivitas fisik membuat risiko gangguan metabolik juga perlu diwaspadai sejak usia muda.

Baca juga: Unsika Mulai Bangun Gedung Amphitheatre dan Peternakan Senilai Rp5,25 Miliar

“Rumah besarnya itu biasanya dari pasien-pasien yang punya obesitas. Kalau untuk orang Asia, BMI di atas 25 itu perlu aware. Selain BMI, kita juga harus melihat lingkar perut, yaitu kurang dari 90 cm untuk laki-laki dan kurang dari 80 cm untuk perempuan,” ujar dr. Indra, Rabu (23/9).

Ia menjelaskan, ukuran lingkar perut menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan karena semakin banyak lemak viseral yang menumpuk, semakin besar pula risiko munculnya gangguan metabolik.

Perut buncit metabolik
dr. Indra Alexandra, Sp.PD, MMRS, Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital Karawang.

Selain faktor pola hidup, faktor genetik juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami obesitas dan penyakit metabolik. Namun, risiko tersebut tetap dapat ditekan melalui perubahan pola hidup yang dilakukan secara konsisten.

Baca juga: Meski Tambang Ditutup, Truk Milik PT JSI Karawang Masih Lalu-lalang di Jalan Badami-Loji

Dr. Indra menyebut, penanganan awal dapat dimulai dengan memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan. Evaluasi terhadap perubahan gaya hidup umumnya dilakukan selama tiga hingga enam bulan sebelum mempertimbangkan penggunaan obat-obatan, kecuali ditemukan kondisi klinis yang membutuhkan penanganan medis lebih cepat.

“Dengan kita menurunkan berat badan 5 sampai 10 persen, itu bisa mengurangi faktor risiko ke arah diabetes sampai 50 persen. Jadi lumayan signifikan untuk mengurangi risikonya,” tuturnya.

Menurutnya, gangguan metabolik juga dapat mulai ditandai sejumlah keluhan yang sering dianggap biasa. Di antaranya mudah haus, mudah lapar dan sering buang air kecil pada malam hari.

Baca juga: 32 Kendaraan Hias Siap Ramaikan Kirab Budaya HUT Karawang Malam Ini, Jalan Tuparev Ditutup Mulai Sore

Gangguan tidur seperti mengorok secara tiba-tiba atau obstructive sleep apnea (OSA), serta keluhan sering sakit kepala, juga dapat menjadi sinyal yang perlu diperiksa lebih lanjut.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap aktivitas rumah tangga seperti menyapu sebagai pengganti olahraga. Aktivitas fisik yang dilakukan sebagai olahraga perlu dilakukan secara terukur dan cukup untuk meningkatkan denyut nadi.

“Disebut olahraga tuh kalau nadi kita naik di atas 100, sampai berkeringat, artinya sudah ada exercise yang baik. Tapi kalau belum sampai berkeringat atau nadinya naik, itu bukan olahraga, hanya kegiatan sehari-hari saja,” jelasnya.

Dari sisi pola makan, masyarakat juga diimbau membatasi konsumsi gula. Asupan gula yang berlebihan dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak dan meningkatkan risiko berbagai gangguan metabolik.

Baca juga: MBK Ventura Santuni 230 Anak Yatim dan Lansia, Layani 60 Ribu Nasabah Perempuan di Karawang

Jika tidak dikendalikan, gangguan metabolik dapat berkembang menjadi sejumlah penyakit kronis. Mulai dari diabetes, gangguan kadar kolesterol, hipertensi, penyakit jantung dan stroke, hingga perlemakan hati atau fatty liver.

dr. Indra menegaskan, penyakit metabolik tidak muncul secara tiba-tiba. Prosesnya dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menimbulkan komplikasi.

“Penyakit metabolik ini tidak terjadi besok atau lusa, tapi butuh proses 5 sampai 20 tahun hingga komplikasinya muncul. Jadi kalau dari awal sudah ke-screening, kita bisa mencegah jangan sampai terjadi sindrom metabolik,” pungkasnya. (*)