Beranda Headline Catatan Redaksi: Tentang Poros Juang dan Hal-hal Lainnya

Catatan Redaksi: Tentang Poros Juang dan Hal-hal Lainnya

Koalisi Poros Juang yang berisi PDIP, PBB, PPP, Hanura, dan PAN baru saja dideklarasikan. Tanpa mengusung calon di Pilkada mendatang, mereka berkomitmen membangun koalisi permanen lima tahun ke depan. Sebagai poros, yang dalam KBBI berarti “sumbu roda”, koalisi ini lebih dari cukup untuk menarik arus koalisi lain ke dalam pusaran mereka. Seperti logo mereka: coretan aneka warna yang membentuk pusaran, yang berpusat pada tulisan “Poros Juang”.

Dalam KBBI, poros bisa bermakna “ujung” pada tombak, tiang, kerucut, dan lainnya. Tapi mereka tidak sedang ada di “ujung”. Apalagi ujung tanduk. Apalagi ujung tanduk banteng. Deklarasi mereka bukan sebagai upaya terakhir mencari ruang di tengah kontestasi Pilkada. Sebab, mereka tidak sedang terburu-buru. Mereka justru jadi pelopor di tengah para calon bupati dan wakil yang menahan diri untuk tidak deklarasi, seperti menunggu giliran main Uno. Deklarasi Poros Juang adalah sentilan untuk para calon yang sembunyi di wilayah abu-abu. Para calon yang menunggu lawan-lawannya memainkan kartu sembari menunggu detik terakhir. Padahal, semua tahu, memainkan kartu di detik terakhir berarti dua hal: perjodohan paksa, atau kekurangan syarat.

Cinta adalah soal penerimaan. Segala kurang. Dan seluruh lebih. Sementara perjodohan paksa melulu bencana. Cepat atau lambat, sebagaimana roman Siti Nurbaya, perjodohan paksa akan membentur tembok ketidakcocokan. Banyak sekali contohnya.

Agak sulit membayangkan Koalisi Poros Juang mengusung calon dari internal sendiri. Publik terlanjur membayangkan kalau calon bupati Karawang adalah Cellica Nurrachadiana, Gina Swara, dan Ahmad “Jimmy” Zamakhsyari. Diakui atau tidak, branding ketiganya sebagai calon bupati sudah melekat. Yang tersisa kemudian adalah kemungkinan-kemungkinan.

Pertama, Poros Juang adalah nilai tawar raksasa untuk Cellica, Gina, dan Jimmy. Mereka punya 11 kursi. Lebih dari cukup untuk mengusung calon sendiri. Siapapun yang mereka dukung akan otomatis mengantongi tiket emas, satu langkah lebih dekat menuju kemenangan Pilkada. Poros Juang ada untuk menguji komitmen para calon.

Kedua, poros juang adalah nilai tawar tapi tidak untuk Cellica. Isu berembus kalau Poros Juang sengaja dibentuk petahana untuk mengocok ulang konstelasi politik dan membuat skenario besar. Namun, sejauh ini, tidak ada kecenderungan ke sana. Andaikan mereka di kubu Cellica, merepotkan sekali mengambil jalan memutar yang ujung-ujungnya menjadi “Kuda Troya” petahana. Barangkali, common sense yang menyatukan lima partai di Poros Juang adalah: asal bukan Cellica.

Ketiga, poros juang ingin maju sendiri. Dengan kader sendiri, dengan sumber daya sendiri. Tanpa memihak Cellica, Jimmy, atau Gina. Poros juang adalah nilai tawar untuk rakyat. Poros Juang, seperti kata Ketua DPD PAN Karawang Bambang Maryono, akan mengirim pasangan calon bupati dan wakil hasil pilihan rakyat.

Pada akhirnya, semua tentang Cellica. Cellica menjadi lawan tunggal bagi semua pihak yang berada di luar lingkarannya.

Mengamati manuver Poros Juang, kami jadi ingat nasihat Sun Tzu: mereka yang menang, adalah mereka yang tahu kapan harus melawan, dan kapan tidak melawan. Mereka yang menang, adalah mereka yang menyiapkan diri, menanti lawan lengah.

*

Oleh: Faizol Yuhri