Beranda Ekonomi Anomali Investasi di Jabar: Tumbuh Tinggi, tapi Tak Banyak Serap Pekerja

Anomali Investasi di Jabar: Tumbuh Tinggi, tapi Tak Banyak Serap Pekerja

Anomali investasi jabar
Sekda Jabar, Herman Suryatma (tengah) usai rapat bersama sejumlah kepala daerah di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karawang, Rabu (11/6).

KARAWANG – Pemprov Jawa Barat (Jabar) tengah dihadapkan anomali investasi. Kendati nilai investasi menjadi yang tertinggi di Indonesia, penciptaan lapangan kerja justru semakin minim.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat (Jabar), Herman Suryatman, mencatat nilai investasi yang masuk ke Jabar pada tahun lalu mencapai Rp 251 triliun–menjadikannya yang tertinggi secara nasional.

Namun di sisi lain, investasi tersebut belum berdampak positif terhadap serapan tenaga kerja.

Baca juga: Tawuran Remaja di Babelan, 9 Orang Diamankan Polisi Beserta Senjata Tajam

“Ada masalah kesenjangan relatif, di mana investasi yang masuk belum mampu menurunkan angka pengangguran secara signifikan,” ucap Herman usai rapat bersama sejumlah kepala daerah di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Karawang, Rabu (11/6).

Dia mendorong investasi yang masuk ke Jawa Barat mesti bersifat inklusif meliputi sektor-sektor padat teknologi, padat modal, dan padat karya.

Hal itu perlu dilakukan agar investasi yang masuk dampaknya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat menengah ke bawah.

Baca juga: Peradi Dukung Bupati Karawang Ambil Alih Perbaikan Jalan Nasional, Acungkan 4 Jempol

“Kami terus mendorong agar investasi di Jawa Barat bersifat inklusif,” imbuhnya.

Kendati demikian, Herman menambahkan jika kondisi ekonomi warga Jabar saat ini masih baik dengan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen dan tingkat inflasi 1,47 persen.

“Jika inflasi bisa ditekan, maka akan memantik laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang saat ini berada di angka 4,9 persen. Target kami adalah mendorongnya agar menembus angka di atas 5 persen,” tandas Herman. (*)