Beranda Ekonomi Generasi Milenial Penyumbang Terbesar Utang PayLater, Tembus Sekitar Rp 2 T

Generasi Milenial Penyumbang Terbesar Utang PayLater, Tembus Sekitar Rp 2 T

Ilustrasi pengguna Pay Later. TEMPO/Ijar Karim

TVBERITA.CO.ID – Generasi milenial dan sebagian generasi Z tercatat sebagai penyumbang terbesar kredit bermasalah atau (nonperforming loan/NPL) DPD30+ pay later per April 2023.

PT Pefindo Biro Kredit atau IdScore mencatat rasio NPL pay later telah mencapai 9,7% atau di atas batas aman rasioNPL 5%. Secara nilai hingga bulan keempat tahun ini sebesar Rp3,28 triliun atau naik 72,6% yoy.

Berdasarkan umur, rentang usia 20-30 tahun menyumbang 47,78% terhadap NPL pay later. Kemudian diikuti usia 30-40 tahun (lebih dari 20%), 40-50 tahun, dan kurang dari sama dengan 20 tahun.

Baca juga: Mulai 2025, Pabrik Baru Daihatsu di Karawang Siap Produksi Mobil Listrik

Melansir CNBCIndonesia, sebaran NPL berdasarkan usia tersebut sejalan dengan pengguna NPL yang sebagian besar atau 50,11% berusia 20-30 tahun. Kemudian rentang usia kedua terbanyak atau 28,2% adalah 30-40 tahun, 40-50 tahun (11,7%), kurang dari sama dengan 20 tahun (6.86%). Selanjutnya usia 50-55 tahun dan lebih dari sama dengan 55 tahun, masing-masing, menyumbang 1,92% dan 1,54%.

Menurut Direktur Utama Pefindo Biro Kredit Yohanes Arts Abimanyu tren buruk NPL di produk pay later merupakan dampak dari kemudahan masyarakat mendapatkan pembiayaan dari layanan tersebut.

“Rata-rata pengajuan BNPL cukup mudah karena tidak menggunakan scoring seperti layaknya kartu kredit,” katanya.

Lazimnya penyedia pay later hanya meminta data-data seperti informasi KTP, nomor HP, dan alamat email. Kontras dengan kartu kredit yang biasanya juga mempertimbangkan pendapatan seseorang dan juga credit scoring yang telah terintegrasi dengan lembaga keuangan lainnya.

Baca juga: Peneliti Ungkap Mandeknya Industri Properti Bisa Picu Kemiskinan hingga 47 Juta Orang

Menurut Yohanes, untuk mengantisipasi NPL yang tinggi, penyelenggara pay later perlu mengombinasikan penggunaan credit scoring dari data kredit atau nonkredit.

Adapun nilai transaksi pay later per April 2023 telah mencapai 85,2% dari total transaksi kartu kredit pada periode yang sama atau Rp 30,8 triliun. Akan tetapi pertumbuhan nilai traksaksi kartu kredit hanya 20,25% yoy, kalah jauh dibandingkan dengan pay later.

Dengan demikian bila tren ini terus berlanjut, tidak sampai akhir tahun 2023, nilai transaksi pay later akan sudah lebih tinggi dibandingkan dengan kartu kredit. (*)