
“Kami membantah bahwa kita dalam membangun rumah sakit ini dalam konteks yang benar-benar profesional yaitu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Gaza, baik saat itu maupun saat ini. Oleh sebab itu, apa yang dituduhkan oleh Israel bisa jadi merupakan satu prakondisi untuk Israel melakukan serangan ke RS Indonesia yang ada di Gaza,” kata Sarbini dalam konferensi pers, Senin (6/11).
Insinyur yang membangun RS Indonesia, Faried Thalib, mengungkapkan fasilitas bawah tanah di rumah sakit merupakan tempat menyimpan solar untuk menghidupkan generator, bukan situs peluncuran roket.
Seiring dengan ini, Sarbini pun meminta masyarakat internasional melindungi RS Indonesia dari serangan brutal Israel, sejalan dengan perlindungan undang-undang atas rumah sakit.
“Kami minta kepada seluruh masyarakat untuk kecam Israel agar tidak melakukan langkah-langkah yang brutal terhadap Rumah Sakit Indonesia karena itu merupakan tumpuan masyarakat Gaza yang ada di utara, di mana 450 ribu tergantung pada satu RS Indonesia dan ini merupakan andalan mereka bersama,” ucap Sarbini.
Sejak perang Hamas vs Israel pecah 7 Oktober lalu, Tel Aviv selalu menyebut kelompok bersenjata Palestina itu membangun markas di bawah rumah sakit. Saat itu, RS terbesar di Gaza, yakni Rumah Sakit Al Shifa, menjadi sasaran tuduhan Israel soal pusat operasi bawah tanah Hamas.
Sejalan dengan tuduhannya, Israel pun terus-menerus meluncurkan serangan di sekitar rumah sakit. Pada 17 Oktober, Tel Aviv bahkan menyerang Rumah Sakit Baptis Al Ahli hingga menewaskan sekitar 300 orang.
Sejauh ini, korban tewas imbas perang di Gaza mencapai lebih dari 9.770 orang, dengan lebih dari 4.000 merupakan anak-anak. Sementara itu, di pihak Israel, korban tewas sekitar 1.400 jiwa. (*)








