Beranda Headline Kadis DLHK: Limbah Pertamina Masih Ada di Laut Karawang

Kadis DLHK: Limbah Pertamina Masih Ada di Laut Karawang

ilustrasi/net

KARAWANG, TVBERITA.CO.ID– Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Karawang, Wawan Setiawan menuturkan, hasil temuan para nelayan tentang masih adanya oil spill telah diterima DLHK Karawang beserta barang bukti, berupa rekaman video dan gumpalan hitam yang diduga oil spill yang menyangkut di jaring-jaring nelayan Pasirputih.

“Laporan ini jadi temuan baru bagi kami. Nanti barang bukti ini akan kami bawa ke laboratorium untuk diuji. Benar tidaknya ini limbah oil spill atau bukan,” ujar Wawan, Senin, (20/1/2020) di Aula Pemda Karawang.

Wawan menjelaskan, limbah yang diduga oil spill oleh nelayan Pasirputih diangkat dari dasar laut yang menyangkut di jaring mereka.

Secara teori, sambung Wawan, minyak dan air harusnya tidak bisa menyatu, karena massa air lebih besar dari pada masa minyak atau oill spill. Sehingga, secara ilmiah harusnya minyak mengambang di atas air. Bukannya tenggelam ke dasar.

“Melihat keluhan nelayan, Oil Spill ini sepertinya masih ada di laut Karawang,” ujar Wawan.

Keluhan nelayan, kata Wawan, oil spill yang tenggelam di dasar laut membuat rajungan dan ikan-ikan menjadi langka di laut Karawang.

Sehingga, musim panen yang harusnya mulai digarap nelayan rajungan Pasirputih sejak Desember lalu menjadi gagal. Karena rajungan langka yang diduga terjadi karena masih adanya oill spill di laut Karawang.

Koordinator Aksi 20.20 nelayan Pasirputih, Masrukhin mengungkapkan, saat ini nelayan Pasirputih sesang masuk masa paceklik. Lantaran sulit mencari rajungan dan ikan di laut.

Terlebih, janji pencairan kompensasi dari PHE-ONWJ terus ditarik-ulur tanpa kejelasan. Hal itu yang membuat nelayan Pasirputih geram dan menggelar aksi unjuk rasa awal pekan kemarin.

“Oil Spill masih ada di laut kami. Saya punya bukti, dokumentasi baik foto dan video lengkap. Bahkan saya juga bawa oil spill-nya dan sudah diserahkan ke Kadis DLHK Pak Wawan,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) mengklaim telah berhasil menyumbat kebocoran gas dan Minyak dari sumur YYA-1, setelah proses pengeboran sumur sumbatan (Relief Well) telah berhasil terkoneksi dengan Sumur YYA -1 per Sabtu, 21 September 2019 lalu.

Direktur Pertamina Hulu Energi, Dharmawan H. Samsu mengatakan, setelah kebocoran gas dan minyak dari sumur YYA-1 ‎berhasil disumbat pada Sabtu (21/9/2019). Saat ini sudah tidak ada lagi minyak yang keluar dari sumur tersebut.

‎”Per hari ini sudah tidak ada. Kemarin masih ada. Tinggal sisa-sisa yang diangkat,” kata Dharmawan, kepada awak media Senin (23/9/2019) lalu, di Jakarta.

Pernyataan Direktur Pertamina Hulu Energi, Dharmawan Samsu bertolak belakang dengan kenyataan di lapangan. Pasalnya, menurut nelayan di pesisir utara Karawang, limbah oil spill masih ada. Bahkan telah dianggap jadi penyebab langkanya ikan dan rajungan.

Hal itu terungkap pasca ratusan nelayan rajungan Pasirputih, Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, menggeruduk kantor Bupati Karawang, Senin, (20/1/2020) kemarin.

Di mana dalam gerakan yang mereka sebut Aksi 20.20 itu, nelayan menyerukan keluh kesahnya. Sebab kata mereka, limbah oil spill masih ada dan mengganggu aktifitas nelayan di pesisir utara. (ris/kie)