Beranda News Personel Polisi Ini Diam-diam Kembangkan Tanaman Hidroponik

Personel Polisi Ini Diam-diam Kembangkan Tanaman Hidroponik

TVBERITA.CO.ID – Salah satu personel Mapolres Purwakarta Iptu Atik Sakron belakangan ini selain disela pekerjaannya sebagai Pimpinan Unit Reskrim Polres Purwakarta ternyata disela tuntutan kerja dirinya disibukkan dengan kegiatan bertani.

Bertani Padi? Salah sama sekali, Iptu Atik tidak memiliki lahan sawah untuk ditanami padi, dirinya hanya memanfaatkan lahan kosong tepat di halaman rumahnya di wilayah Gang Taubat Munjul Purwakarta. Ia berhasil memanfaatkan lahan untuk bertani sayuran dengan sistem dan metode Hidroponik.

Hal ini sudah dilakukan sebelum pandemi Covid-19 masuk ke wilayah Kabupaten Purwakarta tepatnya sejak tahun 2017 dirinya memulai mengembangkan pertanian modern, hanya saja hingga kini hasil pengembangan semakin meluas dan menghasilkan pundi Rupiah dan bisa memberikan nilai ekonomi.

“Saya lahir dari keluarga petani, awalnya pengembangan sistem hidroponik ini dipelajari melalui tutorial di YouTube,” jelas Iptu Atik Sakron saat ditemui di kediamannya, Sabtu (18/7).

“Selain itu dari dulu saya hobi menanam tanaman, yakin dengan ilmu yang diserap saya coba praktik saja,” ujarnya.

“Beberapa peralatan untuk kebutuhan metode tanaman Hidroponik pun disiapkan, seperti paralon, ember dan lainnya dengan menyisihkan gaji sebagai seorang personel polisi,” kenang pria yang bersahaja ini.

“Diawali membuat instalasi dengan menggunakan peralon dan ember, yang diberi lubang dan dialiri air dan persiapan bibit tanaman seperti kangkung dan pakcoy, sekitar 200 pot dan sekarang sudah bisa produksi skala besar mencapai 3000 pot dengan penambahan jenis tanaman selada, bayam merah, sawi putih, cabe ungu dan hijau,” paparnya.

Diakuinya bahwa bertani secara hidroponik ini sangat mudah. Siapa pun bisa melakukannya. Sebab, metode menanam tanpa tanah itu hanya memanfaatkan aliran air dan nutrisi. Berbeda dengan tanaman bermedia tanah yang harus serba ekstra.

“Perawatan tanaman hidroponik bisa kapan saja. Sehari cukup dua kali, pagi dan malam. Itu pun hanya memberikan nutrisi dan memastikan air mengalir. Selesai bertugas kegiatan saya merawat dan mengontrol tanaman,” ungkapnya.

Atik mengatakan dirinya sudah mencoba 4 sistem hidroponik baik sistem DFT atau Deep Flow Technique, NFT Nutrient Film Technique, Wick System, dan rakit apung.

“Dari ke empat metode tersebut, saya lebih milih sistem rakit apung di samping mudah perawatannya hasilnya lebih bagus,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Kanit III Tipidkor Reskrim Polres Purwakarta ini

Kelebihan lainnya dari sayuran menggunakan metode Hidroponik, Kata Iptu Atik panennya tanpa mengenal musim. Dengan perawatan yang tepat, sayur yang ditanam bisa dipanen sebulan sekali.

“Selain itu, irigasi yang berada di lingkungannya dimanfaatkan lahannya dan terlihat hijau, asri dan bersih karena tanaman Hidroponik kelihatan segar,” katanya.

Iptu Atik juga mengatakan bahwa pemasaran sayuran Hidroponik ini awalnya hanya di sekitar lingkungan saja namun kini sudah keluar lingkungannya.

“Dipasarkan di lingkungan saja awalnya, lama kelamaan banyak juga yang datang, selain warga biasa personil Kepolisian pun kerap membeli sayuran di sini, bahkan banyak diantaranya bukan hanya sekedar membeli saja tetapi ikut belajar bertani metode Hidroponik,” pungkasnya. (trg/fzy)