KARAWANG – Ketua Koperasi Asosiasi Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bersathu), Rafiudin Firdaus, menyampaikan bahwa sekitar 300 anggotanya saat ini masih dalam proses pendataan menyeluruh terkait kondisi jemaah.
Menurut Rafiudin, pendataan tersebut mencakup jemaah yang masih berada di Arab Saudi, yang telah kembali ke Tanah Air, maupun yang dijadwalkan berangkat menjelang akhir Ramadan.
“Sekitar 300 anggota kami masih melakukan pendataan, baik untuk jemaah yang masih tertahan, sudah pulang, maupun yang akan berangkat dalam waktu dekat,” ujar Rafiudin Kamis, (5/3).
Baca juga: Tak Penuhi Standar Gizi, 3 Dapur MBG di Karawang Disetop Sementara
Ia menjelaskan, apabila terdapat jemaah yang tertahan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pihak travel dari sisi operasional, tetapi juga berimbas pada kondisi psikologis jemaah serta keluarga mereka di Indonesia.
“Kalau ada yang tertahan, otomatis biaya operasional bertambah, mulai dari hotel, konsumsi, hingga kebutuhan lainnya. Selain itu, tekanan psikologis juga muncul karena keluarga di rumah tentu terus menanyakan kepastian kepulangan,” katanya.
Meski demikian, Rafiudin memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada jemaah dari Sanema Tour yang tertahan di Arab Saudi. Seluruh jemaah disebut dalam kondisi aman dan terus terpantau.
Sebagai langkah antisipasi, pihaknya bersama asosiasi travel haji dan umrah terus berkoordinasi untuk menyiapkan berbagai kemungkinan, termasuk opsi penggunaan penerbangan carter apabila situasi mendesak.
“Saat ini kami masih fokus melakukan pendataan. Jika nantinya diperlukan dan ada kepastian, opsi charter flight bisa menjadi solusi,” ujarnya.
Rafiudin menilai, dampak paling besar dirasakan oleh jemaah yang menggunakan penerbangan dengan sistem transit melalui sejumlah negara Teluk, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman.










