
KARAWANG – Beberapa wilayah di pesisir utara Kabupaten Karawang, Jawa Barat dilanda banjir rob sejak 16 Agustus 2025. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan pangan warga dipasok melalui jalur sungai.
Beberapa desa yang terdampak di antaranya Desa Cemara Jaya jaya dan Sedari di Kecamatan Cibuaya hingga Desa Pusakajaya Utara Kecamatan Cilebar.
Kepala Desa Cemara Jaya, Rudi Candia menyebut sedikitnya ada empat dusun di Cemara Jaya yang terdampak banjir rob. Kondisi tersebut berlangsung sejak dua malam terakhir.
Baca juga: Waspada, Warga di Bantaran Sungai dan Pesisir Karawang Rentan Terkena Banjir
“Iya terdampak banjir rob juga, kalau di desa kami ada 4 dusun yakni Cemara 1, Cemara 2, Pisangan dan Mekarjaya,” ungkapnya, Rabu (20/8).
Saat ini, kata dia, warga meminta ada penanganan khusus dari pemerintah berupa pembangunan tembok laut permanen agar kondisinya tidak semakin parah.

“Masyarakat Cemarajaya meminta penanganan kusus tembok laut permanen,” kata dia.
Kondisi serupa pun terjadi di Desa Sedari. Sebanyak tiga dusun di Karangsari, Tanjungsari dan Tirtasari turut terdampak banjir rob.
“Untuk kondisinya tidak terlalu parah, hanya di Dusun Tanjungsari akses jalan terputus. Ada sekitar 250 jiwa yang terdampak di dusun itu,” ujar Sekretaris Desa Sedari, Karyudi Nasution.
Baca juga: Sejumlah Pejabat Pemkab Karawang Dipolisikan Pengusaha Gegara Proyek, Peradi Dorong Lapor Balik
Logistik dipasok pakai sampan

Dia berujar, akses jalan yang lumpuh membuat kebutuhan logistik pangan warga dipasok melalui jalur sungai menggunakan perahu sampan.
Sebab hingga kini, bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang belum juga turun.
“Pasokan pangan masih bisa lewat perahu sampan melalui sungai,” katanya.
Terpisah, Udin (22) warga Dusun Sukamulya, Desa Pusakajaya Utara, menyebut banjir rob pada 16 – 17 Agustus menjadi banjir paling besar dalam tiga hari terakhir.
“Kalau sekarang sudah agak surut, tapi biasanya sore hari bisa naik lagi. Pasangnya gak bisa diprediksi, kadang besar kadang enggak. Dua bulan lalu malah akses jalan hampir putus total,” jelasnya.
Baca juga: Komitmen Peduli Masyarakat, 20 Karyawan Pupuk Kujang Ikut Program AKSI 2025 di Banyuwangi
Warga bersama perusahaan sebetulnya sudah berupaya mencegah abrasi dengan menanam mangrove sejak 2013 silam, namun ternyata tidak bertahan lama.
“Gelombang laut semakin besar, pohon mangrove banyak yang rusak,” katanya.
Air laut tersebut tidak hanya meluap menggenangi jalan, tetapi juga masuk dan merendam rumah-rumah warga.
Hingga saat ini para warga terdampak di beberapa wilayah tersebut masih menunggu bantuan dari pemerintah untuk penanganan banjir, kebutuhan pangan, hingga menyangkut kebutuhan jangka panjang seperti infrastruktur jalan dan program mitigasi abrasi. (*)








