
KARAWANG – Bencana banjir kembali rendam sejumlah wilayah Karawang, Jawa Barat. Sedikitnya 588 rumah dikepung banjir dengan ketinggian air hingga dua meter.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, Ferry Muharam menyebut banjir kali ini melanda enam desa dan dua kelurahan dari tiga kecamatan, yakni Telukjambe Barat, Telukjambe Timur dan Karawang Barat.
Adapun banjir terparah terjadi di Desa Mekarmulya dan Karangligar dengan ketinggian air mencapai 1,7 hingga 2 meter.
Baca juga: 309 Kopdes Merah Putih di Karawang Sudah Berbadan Hukum, Siap Diresmikan Serentak Akhir Pekan Ini
“Total ada 2.246 jiwa terdampak banjir dari 1.378 KK (Kartu Keluarga),” ucap Ferry, Selasa (8/7).
Dia bilang, banjir awalnya menerjang Desa Karangligar sejak Senin malam akibat luapan air dari Sungai Cibeet dan kawasan industri.
“Karena intensitas hujan serta limpasan air dari kawasan, sehingga sebarannya semakin meluas dan ini berpengaruh,” ujar Ferry.
Baca juga: Bobol Google, Apple dan Microsoft, Remaja Karawang Ini Masuk 10 Hacker Terbaik Indonesia
Sejauh ini, kata dia, petugas sudah disiagakan di sejumlah posko pengungsian. Bantuan logistik pun sudah didistribusikan kepada warga terdampak.

“Bantuan logistik sudah dikirim. Saat ini kami masih fokus melakukan evakuasi menjemput warga terdampak,” tandasnya.
18 tahun bertahan dari banjir
Kepala Dusun 1 Pangasinan Desa Karangligar, Parman, banjir tahunan di desanya sudah terjadi sejak tahun 2007.
“Banjir udah dari 18 tahun terjadi dan warga kita sudah terbiasa,” ucap Parman.
Baca juga: Cuma Berbekal Ranting, Pelajar SMP di Karawang Tewas Dibacok saat Tawuran
Saking terbiasanya, ia mengaku mental warga sudah teruji dalam menghadapi banjir. Perabot rumah diganti berbahan plastik, dan rumah-rumah tidak lagi menggunakan lemari kayu, sofa, atau meja besar.
Dia mengaku tak berharap banyak sebanyak apapun pejabat pemerintahan yang berkunjung ke lokasi, sebab tak ada satu pun solusi konkret yang dirasakan.
“Dari awal musibah ini terjadi, sudah ada kunjungan dari pejabat, tapi solusi nyata tidak pernah ada,” cetus Parman. (*)








