Beranda Bekasi Merebaknya Virus Corona, Dosen STIEPAR YAPARI Angkat Bicara

Merebaknya Virus Corona, Dosen STIEPAR YAPARI Angkat Bicara

BANDUNG,TVBERITA.CO.ID – Dengan merebaknya wabah virus corona yang terjadi di Wuhan negeri Tirai Bambu China dalam beberapa bulan terkahir ini, telah menjadi kekhawatiran masyarakat dunia. Virus yang diaggap berbahaya oleh kalangan medis ini menjadikan sejumlah negara mengambil kebijakan agar penyebarannya dapat diantisipasi.

Begitu juga dengan Indonesia, beberapa langkah telah dilakukan diantaranya dengan penjemputan warga Indonesia yang ada dititik area rawan kontaminasi corona, pelarangan penerbangan dari dan ke China, serta bentuk antisipasi medis lainnya. Pengambilan kebijakan ini tentunya sangat beralasan untuk mencegah penyebarluasan virus yang berbahaya ini bagi nyawa manusia.

Dalam hal ini, Dosen Pariwisata Sekolah Tinggi Ilmu Ekonimi Pariwisata YAPARI Bandung, Titing Kartika angkat bicara, Indonesia-China merupakan dua negara yang telah melakukan hubungan kerja sama dalam berbagai sektor penting seperti perdagangan ekspor impor.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (2019), sektor ekspor non-migas Indonesia pada tahun 2019 ke Cina ini mencapai USD 25,85 M atau sekitar 16,68%. Sementara itu pada sektor impor, Indonesia masih mengimpor seperti bawang putih USD 530 juta, Apel (USD 258,5 juta), Jeruk (USD 107 juta), dan tembakau (USD 117,1juta). Bisa dibayangkan dengan terhentinya sementara kegiatan ekspor-impor karena adanya kebijakan pemberhentian penerbangan, dampak apa yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

“Guncangan corona berdampak ke berbagai sektor diantaranya adalah pariwisata. Sebagai industri yang melibatkan multi sektor, pariwisata sangat sensitif terhadap isu-isu global yang merebak termasuk wabah corona,” ungkap Titing Kartika saat dikonfirmasi Tim Tvberita.co.id melalui Celulernya, Jumat (07/02/20).

Menurutnya, BPS 2019 melaporkan, bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia selama 2019 berdasarkan kebangsaan dalam urutan lima besar adalah Malaysia (2,83 juta), Cina (2,07 juta), Singapura (1,74 juta), Australia (1,26 juta) dan Timor Leste (1,10 juta).