
KARAWANG – Pondok Pesantren (Ponpes) Riyadhoh Daruttawwabin Al Jailani di Kampung Wagir, Desa Bengle, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang memiliki kisah berdiri yang penuh perjuangan.
Pendiri ponpes tersebut, Muhammad Abdulloh Fahrurozi (44) yang akrab disapa Ustad Aa, mengatakan pesantren itu berawal dari kegiatan pengajian sederhana di rumahnya.
Ia datang ke Karawang pada 2008 bersama istrinya dan mulai membuka pengajian anak-anak di rumahnya di kawasan Citra Kebunmas (CKM).
“Awalnya hanya pengajian biasa, ngalir saja. Anak-anak yang datang sekitar tujuh orang, lama-lama bertambah sampai rumah penuh,” kata Ustad Aa saat ditemui belum lama ini.
Baca juga: Tak Terurus, Bangunan Bersejarah Eks Kawedanaan Rengasdengklok Nyaris Roboh
Seiring waktu, jumlah jamaah terus bertambah. Bahkan saat kegiatan manaqiban pada malam Jumat, jamaah yang datang membludak hingga ke jalan.
Untuk mewujudkan tempat pengajian yang lebih luas, Ustad Aa bersama istrinya berusaha mengumpulkan modal dengan menjalankan berbagai usaha. Ia berjualan kelontongan di perumahan Citra Kebunmas hingga menjual produk rumah tangga Tupperware.
Usaha tersebut dijalankan selama beberapa tahun hingga akhirnya pada 2015 ia berhasil membeli sebidang tanah seluas sekitar 400 meter persegi.
“Dari hasil jualan itu akhirnya bisa beli tanah. Awalnya sekitar 400 meter,” ujarnya.

Perjuangan belum berhenti. Pembangunan pondasi pertama pesantren baru dimulai pada 2017 dengan modal sekitar Rp7,5 juta. Setahun kemudian, pada 2018, kegiatan pengajian mulai aktif dilaksanakan di lokasi tersebut dan santri mulai berdatangan dari berbagai daerah.
Baca juga: Kisah Mak Iyoh, 30 Tahun Menjaga Cita Rasa Jojongkong dan Jalabria di Karawang
Pembangunan pesantren terus dilakukan secara bertahap hingga akhirnya sempat berhenti sementara pada 2022.
Buka Layanan Ruqyah Gratis untuk Masyarakat
Selain dari usaha dagang, kebutuhan operasional pesantren juga dibantu dari praktik pengobatan yang dijalankan Ustad Aa, seperti terapi pijat untuk anak-anak dan orang dewasa serta ruqyah.
“Kami juga membuka ruqyah dan pengobatan. Bahkan setiap malam Ahad ada ruqyah gratis untuk masyarakat,” katanya.
Kegiatan pengobatan tersebut juga pernah berkaitan dengan aktivitas tim pemburu hantu yang sempat populer beberapa tahun lalu.
Saat ini sistem pendidikan di Ponpes Daruttawwabin Al Jailani mencakup tiga bidang utama, yakni pengajian kitab kuning, tahfizul Quran, serta pendidikan spiritual melalui riyadhoh.
Riyadhoh menjadi salah satu ciri khas pesantren tersebut. Para santri yang mengikuti program ini biasanya menjalani masa riyadhoh dengan berbagai durasi, mulai dari 40 hari, 100 hari hingga satu tahun.
Menariknya, seluruh kegiatan pendidikan di pesantren ini diberikan secara gratis.
“Di sini ngaji kitab, tahfiz, riyadhoh semuanya gratis. Tidak ada biaya bulanan atau biaya pembangunan. Bahkan makan juga kami siapkan berasnya,” kata Ustad Aa.
Saat ini jumlah santri yang menetap di pesantren sekitar 10 orang, sementara santri yang tidak menetap dan hanya mengikuti kegiatan tertentu sekitar 20 orang lebih.
Baca juga: Ramadan Penuh Berkah, RSUD Karawang Salurkan Zakat bagi 968 Mustahiq
Sebagian besar santri berasal dari wilayah Karawang dan sekitarnya. Namun ada juga yang datang dari luar daerah, bahkan hingga dari Padang, Sumatera Barat.
Untuk kebutuhan konsumsi santri, pesantren biasanya menyediakan beras hingga satu karung setiap beberapa minggu.
Selain kegiatan belajar bagi santri, pesantren juga membuka kegiatan rutin untuk masyarakat umum yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan.
Kegiatan tersebut meliputi kajian tasawuf serta zikir manaqib dan maulid setiap malam Jumat. Kemudian kajian hadits, dzikir istighotsah, serta ruqyah gratis setiap malam Ahad. Selain itu, setiap malam Rabu diadakan kajian fiqih tasawuf serta pendidikan khusus riyadhoh.
Nama Daruttawwabin sendiri diambil dari pesan gurunya di Cirebon. Saat itu gurunya berpesan agar jika suatu saat mendirikan majelis, ia diminta menggunakan nama tersebut.
Baca juga: Tebar Berkah Ramadan, Lapas Karawang Bagikan 200 Paket Takjil ke Masyarakat
Kemudian pada 2021, nama pesantren ditambahkan menjadi Daruttawwabin Al Jailani atas saran seorang ulama dari Libanon, yakni Sayyidina Maulana Syekh Ahmad Rouhi Adduhaibi Al Jailani, keturunan ke-28 dari Syekh Abdul Qadir Al Jailani.
Penambahan nama tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi zikir manaqib Syekh Abdul Qadir Al Jailani yang rutin dilaksanakan di pesantren tersebut.
Saat ini pengelolaan pesantren dibantu oleh beberapa pengajar, salah satunya Ustaz Tubagus serta sejumlah pengurus lainnya. (*)








