PURWAKARTA – Hunian Warisan Bangsa (HWB) Purwakarta dijadwalkan akan resmi diluncurkan pada Sabtu (6/12) besok. Lebih dari seribu tokoh masyarakat, warga, keluarga dan mitra perumahan dijadwalkan menghadiri peluncuran tersebut.
Kawasan hunian modern ini dikembangkan oleh KSO Hunian Warisan Bangsa dan mendapat dukungan Program Kemitraan UMKM LippoLand.
HWB Purwakarta hadir sebagai kota hunian terencana dengan standar kualitas tinggi yang menyasar keluarga pekerja di salah satu kawasan industri paling dinamis di Indonesia.
Proyek ini dirancang untuk menjadi tempat tinggal bagi lebih dari 30.000 warga, lengkap dengan fasilitas dan infrastruktur modern.
Baca juga: Interchange Baru di Tol Cipali, Purwakarta Siap Jadi Magnet Investasi
Harga Mulai Rp 98 Juta dengan Skema Pembayaran Ringan
Unit rumah di HWB ditawarkan mulai Rp 98 juta dengan status kepemilikan Sertifikat Hak Milik (SHM). Tersedia tipe satu, dua, hingga tiga kamar tidur, masing-masing dirancang dengan tata ruang efisien, pencahayaan alami, sirkulasi udara baik, serta area parkir mobil.
Skema pembayaran dibuat terjangkau melalui tenor hingga 20 tahun dengan cicilan sekitar Rp 600 ribu per bulan (flat 40 bulan). Pembeli juga diuntungkan dengan bebas PPN dan bebas BPHTB, sehingga biaya pembelian jauh lebih ringan.
Fasilitas Sudah Beroperasi
Meski ditawarkan dengan harga terjangkau, HWB Purwakarta telah dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain: Masjid, Toko MAMA (kebutuhan harian, buah, sayur, dan perlengkapan rumah tangga), Convenience store FmX, Bank Nobu cabang HWB. Terdapat pula tujuh show unit yang dapat dikunjungi setiap hari.
Di lokasi sudah berdiri 40 rumah pertama beserta contoh kawasan jalan dan infrastrukturnya. Kantor pemasaran dan balai komunitas dibuka setiap hari pukul 07.00–21.00 WIB.
Baca juga: Produk Hunian dan Komersial Lippo Siap Sambut Pertumbuhan Investasi Karawang
Purwakarta: Kawasan Strategis yang Terus Berkembang
Purwakarta dikenal sebagai kabupaten yang memiliki perpaduan budaya kuat dan perkembangan ekonomi pesat.
Di era kepemimpinan Dedi Mulyadi (KDM), daerah ini menguatkan identitas budaya dan tata kelola pemerintahan, sekaligus tumbuh menjadi pusat industri besar dengan lebih dari 8.000 pabrik.









