Beranda Regional Catatan Festival Teater Pelajar, Penurunan Kualitas dan Kuantitas Peserta

Catatan Festival Teater Pelajar, Penurunan Kualitas dan Kuantitas Peserta

KARAWANG, TVBERITA.CO.ID- Festival Teater Pelajar Karawang (FTP) Basa Sunda yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) memang sudah berlalu.

Namun, pementasan yang dihelat di Kampung Budaya oleh Teater SMA-SMK se-Kabupaten Karawang tersebut meninggalkan bebeberapa catatan. Salah satu tokoh seni Karawang, Abah Sarjang ikut memberikan ulasannya.

Diakui Abah Sarjang, perteateran di Karawang mengalami kemunduran secara kuantitas. Hal itu ia lihat dari jumlah peserta yang mengikuti ajang tersebut. Kata Abah, tahun 2017 ketika ia didaulat menjadi salah satu dewan juri, peserta Festival hanya 8 sekolah, tahun ini meningkat jadi 10 sekolah.

“Apakah ini merupakan kemajuan? Tidak. Karena pada tahun-tahun sebelumnya peserta FTP bisa mencapai 15 atau 16 peserta. Artinya perteateran di Karawang secara kuantitas telah mengalami kemunduran jumlah yang mengkhawatirkan. Bagaimana dengan kualitasnya? Sudah tentu, walaupun banyak yang berpendapat bahwa tidak ada hubungannya antara kuantitas dan kualitas, tapi menurut saya, kaitannya sangat erat,” ungkap Abah Sarjang saat diwawancarai, Kamis (4/10) siang.

Menurutnya, penurunan kuantitas yang drastis berpengaruh pada kualitas kelompok-kelompok teater yang masih ada. Karena bagaimanapun, lanjutnya, ketika semangat berteater menurun, akan berdampak pada kualitas kelompok yang masih ada.

“Jangankan meningkatkan kualitas, mempertahankan keberlangsungan teater di sekolah saja sudah sangat menguras energi,” kata dia.

Selain itu, ia menganggap “fullday school” yang dicanangkan oleh pemerintah turut memberikan dampak bagi para siswa. Fungsi sekolah sebagai tempat penggemblengan karakter, pengembangan pribadi dan potensi diri, telah berubah menjadi laboratorium pabrik yang mencetak robot-robot bernyawa.

Anak-anak dipaksa untuk seharian penuh menyerap ilmu-ilmu akademik, otaknya dijejali rumus-rumus, angka-angka, pengetahuan-pengetahuan dan hukum-hukum yang sebetulnya semua itu bisa diperoleh di internet. Akhlak dan moral dipelajari hanya di wilayah teori, anak-anak dituntut hapal aturan-aturan tanpa diberi ruang untuk mempraktikannya dalam kehidupan sosial yang nyata.

“Sekolah sehari penuh telah menghentikan bidang studi ekstra kurikuler, yang tadinya merupakan bidang studi praktik pembuka ruang sosial, sebagai penyeimbang pelajaran teori, telah terampok waktunya. Tersisihkan keberadaannya,” ujarnya.

Ia melanjutkan, teater sebagai salah-satu bidang studi ekstra kurikuler, tentu kena imbas juga. Anak-anak yang ikut serta di bidang studi teater dengan terpaksa tidak bisa latihan secara intens lagi. Jam pelajaran akademik yang demikian padat, membuat badan dan pikiran mereka telah terkuras, seusai sekolah.(nji/fzy)