
KARAWANG – Banjir yang merendam wilayah Desa Tegal Luhur, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, sejak Jumat (17/1), meninggalkan keluh kesah mendalam bagi warga.
Hujan deras yang turun tanpa henti selama beberapa hari terakhir membuat sungai meluap dan air masuk ke rumah-rumah warga, memaksa mereka bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Sudarja, warga Tegal Luhur, mengaku banjir kali ini cukup menyulitkan. Air datang perlahan namun terus meninggi karena hujan tak kunjung reda.
Baca juga: Tanggul Kalimalang Karawang Jebol, PJT II Targetkan Perbaikan Rampung Tiga Hari

“Hujan enggak berhenti-berhenti. Air jadi meluap semua, rumah kebanjiran. Mau beraktivitas juga susah,” keluhnya.
Dia bilang, banjir yang kerap terjadi sebetulnya membuat warga sudah terbiasa, namun bukan berarti tanpa beban. Banyak di antara mereka harus meninggalkan rumah dan mengungsi ke posko darurat atau masjid terdekat.
Di tempat pengungsian, warga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kebanyakan warga ngungsi ke masjid. Tapi ya seadanya, tidur beralaskan tikar, yang penting aman dulu,” ujar Evan, warga setempat.

Keluhan serupa datang dari warga Desa Gempol, Karawang, Bermawan. Sejak Minggu (18/1), hujan deras menyebabkan air Sungai Citarum meluap. Genangan semakin tinggi karena saluran air tidak mampu menampung debit air.
“Hujan terus, air Citarum naik, gorong-gorong enggak kuat. Air langsung masuk ke rumah warga,” katanya.
Banjir tidak hanya merendam rumah, tetapi juga memutus akses jalan. Warga yang menggantungkan hidup dari usaha kecil dan berdagang mengaku kehilangan penghasilan karena tidak bisa beraktivitas.
Baca juga: Menitip Harapan pada Bupati Karawang soal Penataan Kabel Semrawut
“Kalau air segini, mau jualan juga enggak bisa. Jalan ketutup air semua,” keluh Bermawan.
Sebagian warga terpaksa mengungsi ke Masjid Nurul Iman dan posko PDI Perjuangan Kabupaten Karawang. Mereka berharap adanya bantuan cepat, terutama sembako, air bersih, serta tempat tinggal sementara yang layak.
“Yang penting sekarang bantuan buat makan sama kebutuhan sehari-hari. Banjirnya enggak tahu sampai kapan surut,” ujarnya. (*)











