
KARAWANG – Keberadaan ikan endemik di Sungai Citarum kian terancam punah akibat pencemaran lingkungan dan masuknya spesies ikan asing invasif. Kondisi tersebut dinilai semakin mengkhawatirkan, lantaran sejumlah ikan lokal yang membutuhkan kualitas air baik mulai sulit ditemukan dalam pemantauan terbaru.
Relawan ForkadasC+ Foundation Karawang, Willy Firdaus, menjelaskan bahwa komunitasnya telah fokus pada pelestarian Sungai Citarum sejak 2012, dengan perhatian khusus pada konservasi ikan endemik sejak 2018. Menurutnya, penurunan kualitas air menjadi salah satu faktor utama menyusutnya populasi ikan lokal.
“Tidak semua ikan endemik mampu beradaptasi dengan perubahan kualitas air yang ekstrem, seperti perubahan suhu, pH, dan kejernihan air,” ujar Willy pada Jumat, 6 Februari 2026.
Baca juga: Kena Efisiensi, PPK 1.1 Jabar Tak Sanggup Rekonstruksi Total Jalan Pantura Karawang
Ia mencontohkan udang galah yang sangat sensitif terhadap kondisi air, terutama saat proses molting atau pergantian kulit. Udang galah membutuhkan kualitas air di atas rata-rata agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Sebaliknya, beberapa ikan endemik seperti ikan betok dan ikan sepat masih relatif mampu bertahan meski kualitas air menurun.
“Kalau ditanya seberapa parah kondisinya, itu cukup parah. Banyak spesies ikan endemik yang membutuhkan air berkualitas baik tidak ditemukan dalam identifikasi pada Januari lalu,” ungkapnya.

Selain pencemaran, ancaman serius lainnya datang dari ikan asing invasif seperti ikan sapu-sapu, nila, dan lele Dumbo. Spesies-spesies tersebut dinilai mampu merebut ruang hidup ikan endemik, baik dari segi makanan, habitat, maupun tempat berkembang biak. Bahkan, ikan omnivora seperti nila dan lele Dumbo berpotensi memangsa anakan ikan lokal, sehingga mempercepat penurunan populasinya.
Baca juga: Menag RI Sambangi Klenteng dan Ponpes, Kemenag Karawang Sebut Wujud Nyata Moderasi
Khusus ikan sapu-sapu, perilakunya yang sering menggali dasar sungai menyebabkan air menjadi lebih keruh. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya kualitas habitat ikan endemik yang membutuhkan lingkungan perairan tertentu.
Untuk menjaga keseimbangan ekosistem, berbagai upaya pelestarian mulai didorong. Di antaranya menjaga bantaran Sungai Citarum agar tetap berfungsi sebagai dataran banjir alami yang menjadi lokasi pemijahan ikan endemik. Selain itu, diperlukan pengendalian populasi ikan invasif serta program restocking atau pengisian kembali ikan endemik.
Willy juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Ia mengingatkan bahwa tidak semua ikan peliharaan atau hasil budidaya aman untuk dilepaskan ke sungai.
Baca juga: Panel Listrik Terbakar, Layanan RSUD Karawang Terganggu
“Masih ada anggapan keliru bahwa ikan seperti nila, lele Dumbo, atau patin Siam aman dilepas ke Citarum. Padahal, ikan-ikan tersebut termasuk asing invasif. Bahkan patin Siam sering disangka ikan jambal, padahal jelas berbeda,” tegasnya.
Ia berharap kesadaran masyarakat terhadap kelestarian Sungai Citarum terus meningkat, sehingga generasi mendatang masih dapat menikmati dan mencintai kekayaan hayati sungai tersebut.
“Menjaga ekosistem sungai bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat yang hidup di sekitarnya,” pungkasnya. (*)













