Beranda Headline Dorong Budaya Literasi, Pemkab Karawang Minta Setiap Kafe & Resto Sediakan Pojok...

Dorong Budaya Literasi, Pemkab Karawang Minta Setiap Kafe & Resto Sediakan Pojok Baca

Budaya literasi pemkab karawang
Ilustrasi membaca. Foto: istimewa

KARAWANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang, Jawa Barat terus mendorong peningkatan budaya literasi masyarakat dengan memperluas akses membaca ke berbagai lini kehidupan.

Tak hanya mengandalkan perpustakaan, Pemkab Karawang mewacanakan kehadiran pojok baca di setiap ruang publik, termasuk kafe dan rumah makan yang menjadi tempat masyarakat, khususnya anak muda, menghabiskan waktu.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Karawang, Ridwan Salam mengatakan, perluasan taman literasi hingga ke tingkat desa menjadi salah satu upaya yang tengah didorong pemerintah daerah.

Baca juga: Soal Biang Kerok Tumpahan Minyak di Pantai Karawang, Bupati Aep: Tunggu Pembuktian Uji Lab

Menurutnya, setiap desa idealnya memiliki lokus literasi atau minimal pojok baca yang dapat diakses masyarakat. Konsep serupa juga diharapkan dapat diterapkan di berbagai ruang publik.

“Semua desa diwajibkan punya lokus pojok baca minimalnya. Nah, termasuk yang di public space, saya sih berharap semua kafe, semua rumah makan,” kata Ridwan kepada tvberita Kamis, (27/8).

Ia menilai, keberadaan pojok baca tidak harus terbatas pada perpustakaan formal. Ruang-ruang yang menjadi tempat masyarakat berkumpul juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan akses terhadap bahan bacaan.

“Saya sih maunya banyak. Kalian duduk di sini harusnya ada nih pojok baca,” ujarnya.

Baca juga: Bus Warga Pati Dilempari Batu di Karawang, Ini Penjelasan Polisi

Meski demikian, Ridwan menyebut penerapannya masih membutuhkan pembahasan teknis, terutama terkait pengendalian, koordinasi, pengawasan, serta pembagian peran antarorganisasi perangkat daerah.

Ia mengatakan konsep tersebut nantinya perlu dirancang agar gerakan literasi dapat hadir di berbagai tempat yang dekat dengan aktivitas masyarakat, mulai dari desa hingga ruang publik.

“Secara teknis nanti pengendaliannya, koordinasinya, pengawasannya kan ada di dinasnya. Itu yang belum kita bicarakan secara teknis,” katanya.

Ridwan juga menilai pengembangan literasi tidak cukup hanya dengan memperbanyak fasilitas dan jumlah buku. Menurutnya, pemerintah juga perlu membangun ketertarikan masyarakat terhadap aktivitas membaca.

Baca juga: Akeyla Siap Bawa Batik Karawang ke Kirgizstan, Legislator Jabar Dukung Penuh

Terlebih, perkembangan teknologi membuat aktivitas membaca tidak lagi selalu dilakukan melalui buku fisik. Menurutnya, bahan bacaan dalam format digital seperti e-book juga dapat menjadi bagian dari upaya memperluas akses literasi.

“Tidak cukup dengan kita menyiapkan sarananya. Tapi ketertarikan orang baca ini kan juga terbatas. Nah, seperti apa teknisnya yang membangun mindset budaya baca itu,” tuturnya.

Ia mencontohkan budaya membaca di sejumlah negara seperti Jepang yang menurutnya telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat. Orang dapat membaca ketika menunggu kereta, berada di stasiun, maupun saat menjalani aktivitas lainnya.

Baca juga: Kejaksaan Ungkap Kasus Kredit Fiktif Bank Himbara, Tiga Tersangka Ditahan

Karena itu, Ridwan berharap pengembangan literasi di Karawang tidak hanya berpusat pada gedung perpustakaan, tetapi masuk ke ruang-ruang yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.