Beranda Regional Filosofi APBD dan PAD Ala Tukang Kopi 

Filosofi APBD dan PAD Ala Tukang Kopi 

PURWAKARTA-Penikmat kopi di Kabupaten Purwakarta belakangan ini tak perlu mencari kenikmatan menyeruput kopi hingga keluar Purwakarta, belakangan usaha sajian kopi tumbuh subur di Purwakarta dengan menyajikan keragaman jenis kopi yang disesuaikan dengan lidah penggemar kopi baik itu usaha kecil maupun franchise, bahkan beberapa restoran tetap menyajikan pilihan kopi walau tidak secara khusus.

Berbagai jenis dan sajian kopi ditawarkan demi mencapai kepuasan lidah sang bisa saja yang belakangan ini pengusaha kopi tumbuh untuk menyajikan keragaman jenis kopi yang bisa dinikmati penggemar kopi atau Coffee Snob.

Coffee Snob (Penggemar Kopi) versus Barista Coffee (Pembuat Kopi) merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, bagaimana tidak ketika penggemar kopi meminta sajian kopi yang dipesan para pembuat kopi harus mampu mengeluarkan jurusnya dalam meracik jenis kopi tanpa menghilangkan rasanya dan dituangkan kedalam cangkir.

Namun filosofi kopi tentu saja bisa dikaitkan dengan berbagai keadaan, seperti yang biasa kita dengar “perlu tambah secangkir kopi untuk menghilangkan gagal paham mu” ada juga “bila hidupmu terasa pahit mungkin kopimu kurang gula”.

Tapi tahunan kita bahwa usaha untuk memanjakan penggemar kopi ini punya filosofi lain? Kami menyempatkan diri berbincang dengan salah satu penggemar kopi hingga menjadi pembuat kopi di Purwakarta, banyak hal dan proses dalam perjalanan yang dirasakan, tetapi dalam hal ini kita melihat dari sisi lain anggap saja bahasa kerennya dua sisi mata uang.

“Perjalanan dari penggemar kopi sampai menjadi pembuat kopi bukanlah perjalanan yang gampang,”jelas Widdy Apriandi salah satu Coffee Snob dan menjadi Barista Coffee di Purwakarta Sabtu (12/6)

“Membuka tempat usaha kopi dengan segala persyaratannya yang tidak jauh dari aturan pemerintah harus dilalui karena kesadaran kita bahwa aturan, imbasnya sangat meluas terutama untuk PAD (Pendapatan Asli Daerah) Purwakarta,”ungkapnya.

“Namun dari semua itu ada sisi lain yang bisa kita renungkan bersama, terutama bagi pengusaha kopi, penggemar kopi dan pemerintah daerah,”ujarnya sambil menyeruput kopi khas Purwakarta.

“Jika dalam dunia bisnis kita tentu saja sebagai pengusaha akan berpikir sisi keuntungan, jika pengusaha kopi dikomparasi dengan dunia bisnis maka PAD adalah omzet yang diraih dari aktifitas bisnis, bisa dari beberapa hal seperti jualan produk kopi (biji kopi), produk kopi jadi (bubuk kopi) atau hanya proses produksi sangrai (pembakaran biji kopi), ada yang bisa dihasilkan disana,”paparnya.

“Peran pemerintah daerah adalah mencari atau merencanakan sektor mana saja yang bisa mendongkrak PAD, kalau berbicara investasi kan bisa dari bidang apa saja, karena sarana dan prasarana berikut program stimulan bisa dijadikan objek penghasil PAD yang bisa moncer,”jelasnya.

“Saya berikan contoh kecil, di dunia kopi ini juga kan ada investasi bisnis, dari mulai perencanaan seperti pelatihan, buka usaha kopi dimana, beli atau sewa, belum lagi peralatan dan mesinnya, kemudian persiapan SDM nya, sama saja kita membahas untuk PAD kedepan,”tegasnya.

“Dengan berinvestasi sudah tentu arahnya pengembangan usaha, diharapkan bisa ‘beranak’, dan menjadi salah satu PAD tersendiri bagi pengusaha kopi dan bisa dirasakan pemerintah daerah, tidak sedikit pengusaha kopi jadi kaya mendadak karena hasil usahanya, mungkin pola pikir penikmat kopi berbeda dengan yang lain,”ujarnya sambil tertawa.

“Kalau kita berbicara PAD pemerintah daerah justru kebalikannya, membahas perencanaan sampai mengeluarkan energi yang cukup besar, kemudian investasi yang menggunakan APBD besar pasak daripada tiang, plus ada benderanya yang turun 1/2 tiang,”ujarnya.

“Bedanya anggaran APBD dengan kami pengusaha kopi, kalau anggaran APBD akan terus ada, kalau pengusaha kopi harus benar-benar perhitungan, salah sedikit merugi akan menunggu, artinya investasi harus benar-benar diawasi, modal kuat kalau tidak adanya inovasi dan pengawasan bisa tekor dan jungkir balik, lalu nasib APBD kita hari ini seperti apa, apakah seimbang dengan PAD nya,”jelas Widdy sambil menyeruput kopi Madjoe Sejahtera asli dari Kiara Pedes Purwakarta.

“Coba majukan lagi PAD Purwakarta, jangan sampai terlena dengan uang gratis, ahli-ahli pengelola APBD harus banyak ngopi biar bisa mengelola PAD, masa kalah dengan tukang kopi ?? KOPI (Ketika Otak Perlu Inspirasi), jangan lupa ngopi,” pungkas sang Barista dan Roaster Kopi Widdy Apriandi.

Artikel sebelumnyaSyaiful Huda Minta PKB Karawang Bangun Pengurus Anak Ranting Tingkat RT
Artikel selanjutnyaSatu TSK Direhabilitasi, Dipulangkan Jadi Mayat