
KARAWANG – Yayasan Kreasi Tuli Indonesia (YKTI) menggelar pelatihan batik canting bagi penyandang disabilitas sebagai bagian dari rangkaian kegiatan menuju Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari konsep event inklusif yang berlangsung sejak Agustus hingga September, sebelum ditutup dengan kegiatan utama pada 2 Oktober mendatang.
Founder Kreasi Tuli Indonesia, Inaraya mengatakan, pelatihan kali ini memiliki konsep berbeda karena para peserta tidak hanya mengikuti pelatihan secara berkelompok, tetapi didorong untuk mampu menghasilkan karya secara mandiri.
Baca juga: Karawang Kekurangan 4 Ribu Guru, Disdikbud Siapkan Langkah Pemetaan dan Redistribusi
“Kalau selama ini pelatihannya berkelompok, kali ini mereka harus masing-masing. Jadi benar-benar mandiri ketika sudah bisa mengerjakan batik sendiri,” kata Inaraya.
Sebanyak 20 penyandang disabilitas mengikuti pelatihan batik canting. Nantinya, mereka akan berkolaborasi dengan 20 peserta pelatihan menjahit yang berbeda untuk mengolah kain batik hasil karya mereka menjadi busana.
Hasil karya tersebut kemudian akan dilombakan pada puncak kegiatan 2 Oktober. Konsep kolaborasi ini dirancang agar peserta tidak berhenti pada tahap pelatihan, tetapi dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
“Batik yang sudah dibuat nanti akan dikolaborasikan dengan para penjahit untuk membuat baju. Kemudian hasil karyanya dilombakan pada 2 Oktober,” ujarnya.
Menurut Inaraya, karya yang dihasilkan peserta juga terbuka untuk diperjualbelikan. Kemampuan membatik secara mandiri diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk mengembangkan usaha sekaligus memperoleh penghasilan.
“Kalau sudah bisa membuat dari kain kosong menjadi batik, harapannya itu sudah bisa menjadi penghasilan buat mereka,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta mendapatkan pendampingan dari tim Kreasi Tuli Indonesia, sementara untuk desain akan dibimbing oleh Akela. Peserta juga diberikan kebebasan dalam menentukan motif batik yang ingin dibuat, meski sebagian besar diarahkan pada kekayaan flora khas Karawang, seperti motif padi dan unsur alam lainnya.
Baca juga: Pupuk Kujang Kirim 32 Ribu Liter Air Bersih ke Wilayah Kekeringan di Karawang
Peserta yang terlibat tidak hanya berasal dari Kabupaten Karawang. Terdapat pula peserta dari Bandung dan wilayah lainnya. Hal ini sejalan dengan konsep kegiatan yang mengusung semangat inklusif tanpa membatasi peserta berdasarkan wilayah maupun jenis disabilitas.
“Namanya inklusif, jadi kita juga tidak bisa mengkotak-kotakan hanya disabilitas Karawang saja. Sekarang ada daksa, cerebral palsy, dan tidak semuanya tuli,” jelas Inaraya.








