Beranda Regional Kadisdik Soal Kepsek SMP Cikampek : “Belum Tentu Itu Pungli”

Kadisdik Soal Kepsek SMP Cikampek : “Belum Tentu Itu Pungli”

KARAWANG, TVBERITA.CO.ID – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kabupaten Karawang Dadan Sugardan, terkesan tidak peduli dan bungkam ketika ditanya soal kasus penangkapan seorang Kepsek SMP di Cikampek oleh Tim Saber Pungli Jabar, Kamis (5/9/2019) kemarin.

Saat diwawancarai di acara Hari Olahraga Nasional di Plaza Pemda Karawang, Jumat (6/9/2019) pagi, Kadisdik juga terkesan membela dan mempertanyakan tindakan tim saber pungli Jabar, apakah sudah benar atau salah.

“Saya tidak mau berkomentar banyak. Belum tahu juga kan itu apakah benar pungutan liar atau bukan. Yang namanya pungli itu kan begini,” ucap Kadisdik sambil mengacungkan tangan ke bawah, seolah olah meminta secara langsung dan menganggap begitulah kategori pungli menurutnya.

Sehari sebelumnya, Satgas Saber Pungli Jawa Barat menemukan praktik pungutan liar (pungli) di SMPN 1 Cikampek, Kabupaten Karawang. Siswa dipungut uang untuk berbagai keperluan, seperti uang sampul buku, buku ulangan, uang sampah, sarana olahraga, sarana ruang kelas, hingga pengadaan komputer.

Kepala Tim Tindak Unit II Satgas Saber Pungli Jabar AKBP Basman mengungkapkan telah menerima pengaduan dari sejumlah orang tua siswa yang merasa dirugikan. Tim kemudian menyelidiki dan menemukan indikasi pungli di sekolah tersebut.

“Kami menemukan fakta, siswa dipungut berbagai iuran untuk program yang tidak tercantum dalam RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah),” kata Basman melalui sambungan telepon, Kamis (5/9/2019).

Basman menuturkan praktik pungli di sekolah tersebut terjadi pada tahun ajaran 2019/2020. Sekolah, kata Basman, memungut duit dari siswa untuk berbagai iuran.

Perinciannya, iuran perpustakaan Rp 27.500 kepada seluruh siswa, iuran sarana ruang kelas Rp 10-55 ribu kepada seluruh orang tua murid, iuran sampah Rp 24 ribu kepada seluruh siswa tanpa terkecuali, iuran sarana olahraga kepada orang tua siswa kelas VII tahun ajaran 2019/2020 sebesar Rp 300-340 ribu, dan iuran pengadaan komputer kepada 802 siswa kelas VIII dan kelas IX sebesar Rp 206 ribu berupa 20 laptop dan satu server. (cr2/dhi)

Komentar Facebook