KARAWANG – Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang menggandeng mitra internasional untuk memperkuat penanganan kusta melalui peningkatan kapasitas tenaga medis.
Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan Workshop Kusta bagi dokter puskesmas dan klinik swasta yang digelar di Ballroom Mercure Hotel Karawang, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan ini diikuti tenaga kesehatan dari berbagai fasilitas layanan sebagai upaya percepatan eliminasi kusta di Indonesia pada 2030, sekaligus memperkuat sistem penanganan kusta di tingkat pelayanan dasar.
Baca juga: Kepala Kemenag Karawang Buka Diri Jadi Saksi Nikah, Siapkan ‘Mobil Dinas Pengantin’ untuk Pegawai
Workshop digelar di tengah masih tingginya kasus kusta. Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi ketiga di dunia. Kondisi ini mendorong pemerintah bersama mitra internasional untuk meningkatkan kualitas penanganan kusta, khususnya dalam deteksi dini dan terapi yang tepat.
Senior Program Officer The Leprosy Mission Australia, Andrew Newmarch, mengatakan kusta masih menjadi persoalan serius karena berdampak tidak hanya secara medis, tetapi juga sosial.
“Penyakit ini kompleks. Tenaga kesehatan harus mampu mengenali gejala sejak awal dan memberikan penanganan yang tepat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tenaga medis di puskesmas dan klinik memiliki peran penting dalam penanganan kusta, terutama dalam mengidentifikasi gejala awal. Dengan deteksi dini, pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan mencegah komplikasi.
Pengobatan kusta dilakukan dengan metode Multiple Drug Therapy (MDT), yakni kombinasi tiga antibiotik yang efektif menghentikan pertumbuhan bakteri penyebab kusta.
“Jika ditangani lebih cepat, risiko kecacatan bisa dicegah. Keterlambatan penanganan dapat menyebabkan kerusakan saraf hingga kehilangan anggota tubuh,” jelasnya.
Selain pengobatan, tenaga kesehatan juga didorong memahami perawatan lanjutan dalam penanganan kusta, termasuk fisioterapi serta edukasi perawatan mandiri bagi pasien.
Andrew menambahkan, rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tantangan utama dalam penanganan kusta. Banyak penderita terlambat berobat karena tidak mengenali gejala awal.
Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap penderita kusta di masyarakat, padahal penularan penyakit ini tidak mudah terjadi, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh yang baik.
“Penderita kusta tidak perlu dikucilkan. Mereka bisa hidup normal, bekerja, dan menjadi bagian dari masyarakat,” tegasnya.
Baca juga: UBP Karawang Gelar The 3rd ICBENS, Bahas AI and Digital Business for Sustainability
Menurutnya, peningkatan edukasi publik menjadi kunci penting dalam memperkuat penanganan kusta sekaligus menghapus stigma sosial.
Secara global, kasus kusta telah menurun di berbagai negara maju seiring meningkatnya kualitas hidup, termasuk perbaikan nutrisi, lingkungan, dan akses layanan kesehatan.
Melalui workshop ini, tenaga kesehatan di Karawang diharapkan memiliki pemahaman yang lebih komprehensif dalam penanganan kusta, sehingga mampu menekan angka kasus, terutama pada anak, serta mencegah kecacatan akibat keterlambatan penanganan. (*)














