KARAWANG – Musim kemarau mulai menjadi tantangan bagi petani di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang. Keterbatasan pasokan air membuat Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dan Pertanian (DPKPP) Karawang menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.
Selain mengandalkan pompanisasi, DPKPP mendorong percepatan tanam dan penerapan teknologi pertanian modern untuk mengejar target produksi padi sebanyak 1,41 juta ton Gabah Kering Panen (GKP) hingga akhir 2026.
Hingga Agustus 2026, produksi padi Karawang tercatat mencapai 955.951 ton GKP. Kepala Bidang Sarana DPKPP Karawang Mahmud mengatakan, kondisi kemarau memang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian, namun pihaknya masih optimistis target produksi dapat tercapai.
Baca juga: Mobil Ditumpangi WNA Dibobol Perampok Modus Ban Kempes di Karawang, Duit Rp1,3 M Raib
“Realisasi total produksi periode Januari sampai Agustus sudah mencapai 955.951 ton. Walaupun musim kemarau, kami optimistis target 1,41 juta ton GKP dapat tercapai,” kata Mahmud, Senin (28/9).
Menurutnya, persoalan kekeringan di Karawang memiliki karakteristik berbeda antara wilayah selatan dan utara. Di wilayah selatan seperti Pangkalan dan Tegalwaru, sebagian besar lahan pertanian merupakan sawah tadah hujan sehingga sangat bergantung pada datangnya musim hujan.
Sementara di wilayah utara seperti Pakis, ketersediaan air sebenarnya masih ada. Namun, distribusinya menjadi persoalan akibat sedimentasi, pendangkalan saluran irigasi, hingga pertumbuhan eceng gondok dan ganggang.
“Kalau di wilayah utara seperti Pakis, airnya sebenarnya ada. Hanya distribusinya yang menjadi persoalan karena sedimentasi, pendangkalan saluran irigasi, serta banyak eceng gondok dan ganggang,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kekeringan di sejumlah titik, DPKPP mendorong penyiagaan dan pendistribusian pompa air. Pompa digunakan untuk menarik air dari sumber terdekat menuju petakan sawah yang membutuhkan pasokan.
“Kekeringan sebenarnya bisa diantisipasi dengan pompanisasi untuk menyedot air. Beberapa titik pompa sudah didistribusikan ke lapangan untuk menjaga ketercukupan air tanaman,” katanya.
Selain pompanisasi, DPKPP juga mengandalkan Percepatan Tanam (PAT). Melalui skema tersebut, petani didorong segera mengolah lahan dan kembali menanam maksimal 14 hari setelah panen agar lahan tidak terlalu lama dibiarkan tanpa aktivitas produksi.
Pelaksanaan percepatan tanam melibatkan sejumlah unsur di lapangan, mulai dari UPTD Pertanian kecamatan, penyuluh pertanian lapangan hingga Bintara Pembina Desa (Babinsa) TNI AD.
DPKPP juga mulai menerapkan program Pertanian Modern atau Advance Agriculture System dari Kementerian Pertanian melalui metode Tanam Benih Langsung (Tabela) atau sistem tebar padat.
Mahmud mengatakan, metode Tabela dapat memangkas waktu pada tahap awal penanaman. Jika pola konvensional membutuhkan proses penyemaian benih sekitar 18 hingga 21 hari, metode Tabela memungkinkan petani langsung menanam benih di lahan.
Namun, metode tersebut membutuhkan jumlah benih lebih banyak. Pada pola konvensional, kebutuhan benih sekitar 25 kilogram per hektare, sedangkan sistem tebar padat membutuhkan hingga 70 kilogram benih per hektare.









