Beranda Regional Kontribusi Industri Manufaktur Masih Rendah

Kontribusi Industri Manufaktur Masih Rendah

BEKASI, TVBERITA.CO.ID- Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan kontribusi industri manufaktur atau pengolahan dalam perekonomian nasional mencapai 20,4 persen.

 Dengan angka tersebut, kontribusi sektor manufaktur sebenarnya tak banyak berubah dari tahun 2017 yang mencapai 20,16 persen. Dari angka 20,4 persen ini, 84 persennya disumbang dari industri pengolahan nonmigas. “Total kontribusi industri pengolahan nonmigas pada perekonomian adalah 17,7 persen,” kata dia.

Sementara, Airlangga menambahkan, industri pengolahan nonmigas ini tumbuh 4,9 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,27 persen pada kuartal II 2018. Kontribusi terbesar dari industri pengolahan nonmigas ini masih berasal dari industri makanan minuman sebesar 9 persen dan alat angkutan sebesar 3,8 persen.

Pada awal 2018, Sekretariat Kabinet menyatakan bahwa kontribusi sektor manufaktur Indonesia masih menjadi yang tertinggi se-ASEAN. Tapi merujuk pada data United Nations Statistics Division pada tahun 2016 yang dikutip Setkab, kontribusi manufaktur Indonesia saat itu mampu menyumbangkan hingga mencapai 22 persen, lebih tinggi dari 20,4 persen.

Meski demikian, sejumlah pihak menilai kontribusi sektor manufaktur hingga 20,4 persen ini masih jauh dari ideal. Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF, Bhima Yudhistira bahkan menyebut Indonesia mengalami deindustrialisasi sejak 2008. “Dari dulunya 26 persen, kini menjadi hanya 20 persen,” kata dia.

Calon wakil presiden Sandiaga Salahuddin Uno juga menilai bahwa kontribusi sektor manufaktur di Indonesia masih rendah. Menurut dia, kontribusi manufaktur memang harus bisa naik 10 persen lagi, menjadi 30 hingga 31 persen. “Kami akan kawal perbaikan ekonomi ini,” ujarnya saat melakukan safari politik di Tangerang Selatan.

Tapi jauh sebelum itu, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Kartika Wirjoatmodjo, mengakui sektor manufaktur belum menjadi primadona bagi investor. Kondisi tersebut juga ditambah oleh minimnya perusahaan di Indonesia yang fokus pada hilirisasi produk. “Saat ini lebih banyak investasi masuk ke maupun sawit,” katanya. (int/fzy)