Beranda Regional LPK Roby Perbatasan Peduli Pendidikan dan Tingkatkan Skill Kaum Perempuan

LPK Roby Perbatasan Peduli Pendidikan dan Tingkatkan Skill Kaum Perempuan

KOTA BEKASI – Terinspirasi oleh banyaknya pengangguran dan susahnya mencari lapangan kerja pada tahun 2014. Lembaga Kursus Dan Pelatihan (LPK) Roby Perbatasan tahun 2015 akhirnya memutuskan membuka pelatihan – pelatihan gratis untuk masyarakat Sebatik, Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara yang didirikan oleh Harcuncung.

Hingga saat ini, banyak alumni-alumni LPK Roby Perbatasan yang telah sukses bekerja di perusahan-perusahaan kecantikan, bahkan ada yang telah sukses membuka usaha mandiri Salon kecantikan,

”Tagline kami memang peduli tentang pendidikan non-formal dan meningkatkan Skill masyarakat sekitar, perempuan-perempuan di perbatasan Kalimantan Utara Di era saat ini harus sukses dan memiliki usaha mandiri,” ungkap Owner dan Direktur LPK Roby Perbatasan, Harcuncung saat dikonfirmasi tvberitacoid, Selasa, (31/8/2021).

Harcuncung yang akrap disapa Ocha melihat pada tahun 2014, masyarakat yang ada di perbatasan dengan Malaysia ini, yang mana khususnya para perempuan tidak memiliki pendidikan formal tinggi harus bekerja banting tulang sebagai penombak kelapa sawit.

“Saat itu, saya sangat miris sekali melihat bahwa, yang mana para perempuan itu harusnya bekerja di rumah, tetapi malah sebaliknya, mereka harus banting tulang diluar sana karena keadaan faktor ekonomi yang memaksa untuk bekerja sebagai buruh,” tutur Ocha.

Di sanalah, hati Ocha tergerak untuk membantu para perempuan perbatsan agar tidak menjadi buruh penombak kelapa sawit. Dengan ilmu yang dimilikinya, dia bertekad dan iklas membantu angkat derajat kaum perempuan Sebatik, Nunukan, Kaltara.

“Pada saat itu, mungkin skill yang dimiliki hanya sebatas gitu aja, atau kemampuan yang tidak dimiliki, akhirnya mereka bekerja sebagai buruh kasar di perusahaan Malaysia. Saat itu saya mencoba berusaha pelan-pelan untuk pendekatan pada mereka. Dulu saya menawarkan sebuah ide mengajarkan ber-makeup dan mereka menyambut tawaran saya mau sekali,” papar Ocha

Selang beberapa minggu, dia mengajarkan makeup, dan hasilnya para perempuan perbatasan yang bekerja sebagai buruh penombak kelapa sawit itu mulai percaya diri, bahwa mereka memiliki skill dan mulai merias dinikahan karyawan Perusahaan Kelapa Sawit Malaysia tersebut,

“Di situlah saya berfikir, harus ada wadah untuk mengajarkan mereka secara khusus. Dulu bukan LPK, tapi sebuah Kaf, dan setiap hari sabtu saya masuk ke Kap itu untuk mengajar dan membelikan peralatan make up dengan batasnya ada 10 orang secara gratis,” tuturnya.

Kemdian, lanjutnya, ia bertemu dengan salah satu teman dan menceritakan kisahnya bertemu denga para perempuan di perbatasan. “Lalu teman saya di Samarinda menawarkan untuk membuka LPK agar bisa mewadahi bakat mereka.”

“Semangat saya saat itu, bagaimana caranya harus bisa membuka tempat pendidikan non-formal untuk membantu mereka agar meninggalkan pekerjaan kasar itu. Meskipun harus melalui proses panjang, akhirnya motivasi dan niat baik saya terkabul bisa memberikan pelajaran satu bulan, mereka bisa bekerja di Salon dan mendapat undangan untuk merias pengantin,” tutur Ocha dengan semangat.

Lebih lanjut kata Ocha, dulu dia tidak tau apa itu LKP. “Tahun 2016 saya memutuskan berhenti menjadi guru dari dipendidikan Formal. Dan lebih memilih membuka pendidikan non-formal atau lembaga pelatihan yang mengatasi masyarakat yang ingin mendapatkan skill, tapi tidak bias terjangkau mendapatkan dari pendidikan formal.”

“Berawal di situlah, akhirnya saya membuka sebuah wadah kursus di salon. Dan alhamdulilah saat itu banyak sekali peminatnya. Di situlah saya dengan berbangga hati bisa menjadi instruktur pertama walaupun berada di perbatasan, tapi kreatifitas kita tidak terbatas dan memiliki semangat untuk sukses,” tutur Ocha saat mengakhiri perbincangan. (ais/kie)

Artikel sebelumnyaDalami Kasus LKM, DPRD Karawang Gelar RDP
Artikel selanjutnyaRolling Hills Karawang Mulai Serahterimakan Ruko SOHO Pacific Plaza, Lebih Cepat dari Komitmen Awal