Beranda Regional Mahasiswa KKN UBP Karawang Meninjau UMKM Konveksi Topi di Desa Wancimekar

Mahasiswa KKN UBP Karawang Meninjau UMKM Konveksi Topi di Desa Wancimekar

Tahun ini Universitas Buana Perjuangan Karawang kembali melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Setelah mengkaji kembali kebijakan pemerintah kabupaten Karawang, kegiatan pada tahun ini dilakukan secara online. Sama seperti tahun sebelumnya.

Desa Wancimekar merupakan salah satu desa yang menjadi lokasi kegiatan. Terdiri dari tiga dusun (Cariu, Kalioyot, kerajan) di dalamnya. Desa Wancimekar masuk dalam kawasan Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Karawang. Kegiatan KKN pada tahun ini mengusung tema “Sinergi Membangkitkan Ekonomi Kerakyatan di Era New Normal”. Yang dilaksanakan mulai tanggal 01 sampai 31 Juli 2021. Dan dilakukan dalam satu kelompok yang terdiri dari Tujuh belas mahasiswa dari berbagai jurusan.

Fokus dari kegiatan KKN ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak pandemi agar dapat pulih, bersaing dan bertahan di dalam situasi seperti sekarang ini. Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan kegiatan usaha yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok yang bertujuan untuk mensejahterakan individu maupun kelompok.

UMKM yang ada di Desa Wancimekar didominasi oleh konveksi topi. Untuk mendapatkan data yang valid mahasiswa harus melakukan observasi dan wawancara ke beberapa pemilik konveksi topi. Meskipun begitu, selama kegiatan berlangsung, mahasiswa harus membatasi kunjungan ke desa dan mengurangi jumlah partisipan yang turun ke lapangan. Hal ini karena lonjakan kasus Covid-19 naik secara signifikan di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk daerah Karawang yang berstatus zona merah.

Pelaku UMKM yang sudah menggeluti usaha konveksi topi selama bertahun-tahun adalah Bapak Tatang dan Bapak Ridwan. Dalam wawancara singkat yang dilakukan banyak kendala yang dirasakan saat pandemi terjadi.

“Saat pandemi seperti ini, kita mengalami penurunan pesanan dan sulit mendapatkan bahan baku. Kita juga mengalami kesulitan dalam pemasaran produk dikarenakan daya saing yang tinggi dengan perusahaan”. Ujar Bapak Tatang (5/7/2021).

Banyak kendala yang dialami pada saat pandemi. Selain pemasaran. Perusahaan juga mengubah kebijakan perizinan permintaan orderan kepada pelaku UMKM yang tadinya berupa Commanditaire Vennotschap (CV) menjadi Perseroan Terbatas (PT). Lainnya, banyak perusahaan di Karawang yang membutuhkan seragam karyawan (Topi, Baju, Celana, dll) tetapi tidak membuat permintaan dari UMKM di Karawang sendiri melainkan dari daerah lain seperti Bandung, Jakarta, dan Bekasi.

Sependapat dengan Bapak tatang. “Minimnya pengetahuan tentang pemasaran merupakan kendala yang begitu dirasakan. Omset menurun, orderan berkurang, tetapi gaji karyawan harus tetap dibayarkan”. Ujar bapak Ridwan (14/7/2021).

Sejak pandemi berlangsung segala kebutuhan konsumen beralih menjadi online. Perlu adanya edukasi tentang pemasaran kepada pemilik UMKM. Untuk dapat bertahan dan mempromosikan produknya secara digital marketing. Namun, dibutuhkan dukungan yang konsisten dari pemilik UMKM.

“Hari ini, bisnis online menjadi solusi utama dalam memasarkan sebuah produk. Oleh karena itu para pelaku UMKM sudah seharusnya memanfaatkan media digital yang ada seperti Facebook, Instagram, Online Shop (Shopee, Tokopedia, Lazada, Bukalapak, dll) untuk mempromosikan produknya”. Ujar Mahasiswa (18/7/2021).

Artikel sebelumnya12 Kecamatan di Bekasi Akan Terima BST Tanggal 21 Juli
Artikel selanjutnyaBentuk Kepedulian, Gapensi Karawang Potong Satu Ekor Sapi dan Tiga Ekor Domba