Beranda Headline Nelangsa Penderita Kusta di Karawang, Masih Sering Diasingkan & Dianggap Guna-guna

Nelangsa Penderita Kusta di Karawang, Masih Sering Diasingkan & Dianggap Guna-guna

Penderita kusta karawang
Penderita kusta. Foto: ilustrasi

KARAWANG — Penyakit kusta masih menjadi salah satu penyakit yang kerap terasingkan di tengah masyarakat. Selain persoalan penularan dan pengobatan, stigma terhadap penderita menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanggulangan kusta di Kabupaten Karawang.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karawang mencatat terdapat 278 kasus kusta sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 168 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Karawang, Yayuk Sri Rahayu menyampaikan, temuan kasus kusta masih mencakup anak-anak hingga penderita yang mengalami kecacatan tingkat dua.

Baca juga: Kesal Disinggung KDM soal Truk Tambang, Jenal Aripin: Jangan Cuci Tangan, yang Buka Izin Siapa?

“Adanya temuan kasus kusta pada anak menunjukkan bahwa rantai penularan di lingkungan masyarakat masih berjalan secara aktif. Sementara itu, ditemukannya kasus dengan kecacatan menandakan bahwa deteksi dini dan pengobatan masih sering terlambat dilakukan,” ujar Yayuk saat ditemui di ruang kerja pada Rabu, (16/9).

Yayuk mengatakan, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam mengejar target eliminasi kusta pada 2030. Upaya penanganan tidak hanya dilakukan melalui pengobatan, tetapi juga dengan memperkuat edukasi masyarakat dan mengurangi stigma terhadap penderita maupun Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

“Orang yang mengalami kusta membutuhkan dukungan psikologis dan penerimaan sosial dari lingkungan sekitar agar memiliki rasa percaya diri dalam menjalani proses penyembuhan,” katanya.

Baca juga: Karawang Waspadai Peningkatan Kasus Kusta, Edukasi dan Deteksi Dini Diperkuat

Dinkes Karawang juga menggandeng Netherlands Leprosy Relief (NLR) melalui program Desaku dan Kotaku (Desa dan Kota Sahabat Kusta). Program tersebut telah diterapkan di 20 Puskesmas yang tersebar di 10 kawasan pedesaan dan 10 kawasan perkotaan.

Selain itu, penguatan kapasitas dilakukan melalui pelatihan kader kesehatan serta workshop bagi tenaga medis swasta, klinik dan dokter praktik mandiri untuk memperkuat penemuan kasus dan jejaring rujukan.