Beranda Karawang Proyek Pengendali Banjir di Karawang Bikin Puluhan Makam Longsor, Ini Penjelasan Pihak...

Proyek Pengendali Banjir di Karawang Bikin Puluhan Makam Longsor, Ini Penjelasan Pihak Pelaksana

Pelaksana pengendali banjir karawang
Pihak pelaksana proyek Pengendali Banjir Saluran Pembuang Cidawolong angkat bicara terkait longsornya area Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Desa Parungsari, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang.

KARAWANG – Pihak pelaksana proyek Pengendali Banjir Saluran Pembuang Cidawolong angkat bicara terkait longsornya area Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Desa Parungsari, Kecamatan Telukjambe Barat, Karawang, yang mengakibatkan puluhan makam terdampak dan harus dipindahkan oleh warga.

Konsultan Supervisi Kementerian Pekerjaan Umum, Saryanto mengatakan, kejadian longsor di lokasi tersebut bukan kali pertama terjadi.

Berdasarkan informasi dan data yang dihimpun dari warga, kawasan tersebut memang memiliki riwayat longsor sejak lebih dari satu dekade lalu.

Baca juga: Puluhan Makam di Karawang Longsor Akibat Proyek Pengendali Banjir BBWS Citarum

“Sebelumnya kami sudah mencari data. Kejadian longsor itu sudah pernah terjadi sekitar tahun 2012 sampai 2013. Bahkan ada rumah yang selesai dibangun, siangnya langsung longsor. Setelah itu terjadi lagi sekitar setelah Lebaran atau Idulfitri tahun ini,” kata Saryanto saat ditemui di lokasi proyek pada Kamis, (11/6).

Menurutnya, panjang area longsor yang berada di sekitar makam diperkirakan mencapai 10 hingga 15 meter. Faktor utama penyebab longsor diduga berasal dari kondisi tanah yang memang labil dan diperparah oleh banjir yang berulang kali terjadi di wilayah tersebut.

“Memang kondisi tanahnya. Kemudian ditambah kejadian banjir juga. Tanah sudah goyang, lalu kebetulan area pekerjaan kami berada berdekatan dengan lokasi tersebut,” ujarnya.

Ia menjelaskan, titik longsor tidak hanya terjadi di dalam area proyek, tetapi juga ditemukan pada bagian luar area pekerjaan.

“Longsor terjadi di luar area kerja dan sebagian masuk ke area kerja. Yang terdampak sekarang bukan hanya area proyek, tetapi wilayah di luar pekerjaan juga mengalami longsor,” katanya.

Baca juga: 7 Kopdes Merah Putih di Karawang Mulai Aktif Pasok Kebutuhan Pangan Program

Terkait permintaan kompensasi dari warga terdampak, Saryanto menyebut persoalan tersebut telah dikomunikasikan antara pelaksana proyek dengan pemerintah desa dan perwakilan masyarakat.

“Soal kompensasi sudah dibicarakan. Nanti mekanismenya dikomunikasikan oleh penyedia jasa dengan pihak terkait,” jelasnya.

Saryanto menambahkan, pembangunan proyek Pengendalian Banjir Saluran Pembuang Cidawolong hingga saat ini telah mencapai progres sekitar 30 persen. Capaian tersebut, kata dia, dipengaruhi sejumlah kendala di lapangan, mulai dari proses pembebasan lahan hingga tingginya intensitas banjir sepanjang tahun ini.

“Kalau progres keseluruhan sekitar 30 persen. Minggu depan mudah-mudahan mendekati 40 persen. Memang ada beberapa kendala seperti pembebasan lahan yang cukup lama dan kondisi cuaca,” katanya.

Ia menyebut frekuensi banjir tahun ini jauh lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya, sehingga menghambat pekerjaan di lapangan.

Kendati demikian, pihaknya tetap menargetkan proyek sesuai jadwal, dimana harus rampung pada tahun ini.

“Kalau biasanya banjir hanya sekitar tiga kali dalam setahun, tahun ini sudah terjadi sekitar 11 kali. Itu sangat mempengaruhi pekerjaan karena area kerja tergenang air,” ujarnya.