Beranda Regional Tanaman Barrier Mampu Menekan Keragaman Serangga Hama

Tanaman Barrier Mampu Menekan Keragaman Serangga Hama

Oleh ; Martua Suhunan Sianipar

Dosen Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertania

Universitas Padjadjaran

Masalah kerusakan tanaman akibat serangan hama dan penyakit telah menjadi suatu bagian dari budidaya tanaman, sejak manusia mengusahakan pertanian ribuan tahun yang lalu.  Manusia dalam memenuhi kebutuhan sandang dan pangan  untuk kelangsungan hidupnya, sengaja menanam tanaman untuk dipungut hasilnya.  Namun tanaman yang di budidayakan oleh manusia selalu mengalami gangguan dari hama dan penyakit, akibatnya hasil produksi tanaman menjadi menurun baik dari segi kuantitas maupun kualitas.  Fenomena ini menyebabkan manusia/petani menganggap bahwa hama dan penyakit adalah musuh yang harus dikendalikan dengan cara apapun.

Hama dapat dikatakan sebagai mahluk hidup seperti serangga yang menyebabkan kerusakan dan kerugian pada tanaman yang dibudidayakan. Sebagai praktisi pertanian, hama tentu saja bukan barang baru bahkan mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari dan dijadikan salah satu prioritasnya. Wajar di setiap lembaga pertanian baik itu tanaman pangan, hortikultura, rempah dan obat, maupun perkebunan dan kehutanan ada divisi khusus yang menangani masalah hama.. Seolah-olah kehadiran hama ini tidak bisa dipisahkan dengan pertanian. Kenyataannya memang demikian, karena kehadiran hama  tidak bisa dipandang remeh atau sebelah mata. Sudah cukup banyak kasus yang menunjukkan betapa hebatnya hama menghabiskan dan menghancurkan areal pertanian. Masih teringat dalam benak kita pada era tahun 80-an dimana hama Wereng Batang Coklat (WBC) melalap habis tanaman padi hampir di seluruh Indonesia. Kemudian akhir 90-an, jutaan hama belalang menghabiskan ribuan hektar areal padi sawah di Propinsi Lampung tanpa ampun, tidak hanya padi yang diserang bahkan semua tanaman yang berdaun sejajar seperti jagung, kelapa, dan lain-lain turut menjadi korban keganasan hama ini. Dan masih banyak lagi kasus yang menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh hama.

Kenyataan tersebut membuat praktisi pertanian terus berupaya melakukan serangkaian penelitian dalam rangka menanggulangi serangan hama yang makin lama semakin mengganas. Namun seperti halnya antara pencuri dengan teknologi alat pengaman, dimana semakin canggih teknologi alat pengaman, semakin pintar pula seorang pencuri dalam mengatasi alat tersebut. Perumpamaan tersebut boleh jadi sama dengan team riset hama dan penyakit dengan hama itu sendiri dimana semakin maju teknologi pengendalian hama, semakin banyak pula hama yang menyerang, seolah tidak ada habisnya.

Sudah banyak upaya yang dilakukan dalam menangani hama ini, terutama hama yang berasal dari kelompok serangga baik dari petani sendiri maupun pihak yang terkait dalam hal ini para peneliti di lembaga pertanian. Karena sebagian besar hama yang menyerang tanaman pertanian adalah golongan insect (serangga). Upaya pengendalian yang selama ini dilakukan diantaranya : cara mekanis yaitu mengambil satu per satu dan sekaligus membunuhnya, secara biologis yaitu dengan menggunakan musuh alami maupun pengendalian cara kimia. Hingga kini petani lebih memilih penggunaan cara kimia karena diyakini bahwa cara tersebut bisa langsung membunuh hama. Penggunaan insektisida kimiawi sebagai jalan pintas bisa kita maklumi tergantung bagaimana cara kita memandang. Dari kacamata petani, tentu saja penggunaan insektisida sebagai alternatif pengendalian hama ini harus kita pahami, karena bagaimanapun juga petani sudah menginvestasikan sejumlah uang agar modalnya bisa kembali dan kalau bisa mendatangkan keuntungan berlipat bagaimanapun caranya. Dan cara ini diyakini sebagai satu-satunya cara agar hasil panennya bisa selamat dan menghasilkan untuk menopang kehidupannya.

Akan tetapi hal ini tentu saja sangat kontras dengan isu yang berkembang saat ini yang menuntut agar penggunaan pestisida kimia dalam pertanian dikurangi sesuai dengan asas pertanian yang berkelanjutan. Para ahli lingkungan hidup mengungkapkan bahwa penggunaan pestisida saat ini sudah sedemikian tinggi dan mengkhawatirkan. Apalagi didukung dengan ditemukannya tingkat residu pada sayuran, buah buahan yang sudah disemprot pestisida. Tingginya tingkat residu pada makanan akan mempengaruhi kualitas hidup yang mengkonsumsinya, bahkan bisa membahayakan konsumen. Sehingga dengan pemikiran dan didukung bukti yang kuat tersebut, perlu diupayakan agar pertanian yang dikembangkan sekarang ini sedapat mungkin menghindari penggunaan bahan kimia. Hal ini bisa kita maklumi karena pengendalian hama dengan menggunakan insektisida kimia secara berlebihan alias tidak bijaksana di lapangan telah disadari merupakan tindakan yang salah karena keuntungan yang diharapkan dari aplikasi insektisida tersebut telah  berbalik menjadi kerugian ekosistem yang tak ternilai harganya.

Sebenarnya petani sendiri menyadari bahwa penggunaan bahan kimia terutama pestisida merusak lingkungan, namun tidak ada jalan lain lagi, lagipula budaya yang sudah melekat di masyarakat termasuk dalam hal tehnik budidaya sangat sulit dirubah begitu saja. Jalan keluar yang dapat dilakukan adalah dengan terus memberikan penyuluhan secara kontinyu dan sedapat mungkin penggunaan pestisida hanya diberikan pada saat-saat terjadi serangan hama saja. Dan diusahakan agar pengendalian lebih diarahkan pada cara mekanis, biologis, ataupun kultur teknis dimana salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan barrier crop.

Adanya kerugian ekosistem akibat aplikasi insektisida kimia  telah mendorong pemerintah Indonesia menerapkan konsep pengendalian hama terpadu sebagai sistem perlindungan tanaman yang rasional.  Pengendalian ini lebih diarahkan pada memadukan beberapa cara pengendalian yang bisa dipadukan dan tidak mengutamakan pengendalian dengan pestisida kimia.  Konsep perlindungan tanaman ini di dasarkan pada prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT), yaitu memadukan  beberapa cara pengendalian yang dianggap cocok dan kompatibel untuk dipadukan pada lokasi tersebut.  Hal ini didasarkan pada pengelolaan agroekosistem dengan menciptakan kondisi yang ada yang tidak mendukung  perkembangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sehingga keberadaannya di lahan/tanaman tidak menimbulkan kerugian yang berarti ditinjau dari segi ekonomi.

Barrier crop merupakan tanaman sekunder atau tanaman penghalang atau pembatas atau pinggiran yang dapat melindungi tanaman primer dari Serangan OPT. Barrier crop berfungsi untuk mengalihkan serangan Organisme Pengganggu tanaman itu dari tanaman budidaya ketanaman inangnya. Penggunaan barrier merupakan alternatif pengendalian yang bisa dilakukan. Dengan menggunakan barrier, diharapkan bisa mengurangi populasi hama serangga yang merusak.

Hama tanaman tidak akan dapat dibasmi dengan tuntas. Salah satu cara pengendalian yang utama adalah dengan pembuatan barrier berupa tanaman. Tanaman barrier yang ditanam merupakan pengalih perhatian hama, sehingga diharapkan hama lebih berkumpul di tempat barrier tersebut. Pengendalian tersebut untuk mengalihkan hama agar tidak menyerang tanaman produksi. Diharapkan juga dengan cara tersebut akan mendatangkan predator sebagai pemangsa hama tanaman. Berikut beberapa contoh Tumbuhan Barrier dan kegunaannya a.l. Tanaman Jagung, sorghum dan kenaf untuk mengalihkan perhatian kutu kebul (Bemisia tabaci), tanaman pagoda mampu mengendalikan virus Bean Common Mosaic Virus (BCMV) pada tanaman Kacang Panjang (Vigna sinensis) , gandum, bunga matahari, oat, okra, tanaman  Bunga Melati Jepang (Pseuderanthemum reticulatum) juga berguna sebagai bahan baku industry kosmetika, minyak wangi, tektil dan penyedap teh, Bambu Jepang ( Pseudosasa japonica) berguna juga sebagai tanaman estetika, tanaman dolar (Ficus pumila) sebagai tanaman estetika, dan pohon Cemara (Casuarinaceae), pohon Tanjung ( Mimusops elengi),  tanaman Ketapang Kencana ( Terminalia mantaly), pohon Mahoni ( Swietenia macrophylla ), pohon Kiara Payung ( Fellicium decipiens) dimana semuanya berfungsi juga sebagai tumbuhan peneduh . Selanjutnya Dibawah ini contoh-contoh beberapa hama serangga:

,
Kepik Hijau
(Nezara Viridula)
Ulat Tanah
(Agrotis Ipsilon)
Lalat buah
(Dacus sp.)
Imago Spodoptera Sp.
Walang sangit
(Leptocorixa acuta)
Wereng Coklat
(Nilapervata lugens)
Lalat bibit
(Ophyomia phaseoli)
Imago Plutella xylostella

Umumnya, hama serangga menyerang tanaman pada fase ulat atau fase kupu-kupu.

Manfaat lain barrier terhadap hama juga dapat ditinjau dari efek suhu dan kelembabannya. Barrier dapat menjadikan suhu di lingkungannya rendah dan berkelembaban tinggi, sehingga tidak disukai hama. Akibatnya, pertumbuhan dan siklus hama serangga terganggu, dan keanekaragaman serangga pun tidak berkembang, bahkan menurun. Barrier crops dapat menjadikan suhu di lingkungannya rendah dan berkelembaban tinggi, sehingga tidak disukai hama. Akibatnya, pertumbuhan dan siklus hama serangga terganggu, dan keanekaragaman serangga pun tidak berkembang, bahkan menurun.

Artikel sebelumnyaKapolri Cabut Surat Telegram Larangan Media
Artikel selanjutnyaUBP Lakukan Ujian Saringan Masuk Gelombang II