Beranda Regional Walau Potensi Bagus, Usaha Handicraft Kurang Dapat Perhatian Orang

Walau Potensi Bagus, Usaha Handicraft Kurang Dapat Perhatian Orang

KOTA BEKASI, TVBERITA –  Peluang usaha handicraft saat ini masih kurang mendapat perhatian dari beberapa orang. Padahal melihat potensi dari usaha ini sangat bagus, harusnya masyarakat bisa melirik usaha ini, selain nilai seninya sangat kuat, usaha handicraft ini memang membutuhkan keterampilan dan kesabaran dalam mengerjakannya, baik secara Handmate maupun memakai mesin jahit bisa dari bahan-bahan sepele, tetapi punya nilai seni tinggi dan bisa mendatangkan penghasilan besar dari wisatawan Internasional maupun wisatwan lokal.

Ditenghah pandemi covid 19 ini, ternyata usaha handicraft bagi warga Kota Bekasi Ibu Nuthayati sudah bertahun-tahun digelutinya seperti  ‘Quilting Aplikasi’ dari tingkat kerumitannya itu bisa mendatangkan nilai  jual yang sangat tinggi yang dipasarkan secara Online, karena melihat nilai seni karyanya yang sangat tinggi, bisa menambah perekonomiannya.

“Seni Quilting ini sebenarnya hanya ada di Jepang dan Amerika, pada saat itu suami saya mendapat tugas ke Jepang dari kantornya selama dua tahun, saya pun ikut mendampinginya ke Jepang. dari pada berdiam diri saja di rumah belum jelas mau ngerjain, akhirnya saya ikut kursus masak, tetapi agak susah karena makanannya di Jepang tidak halal, dan tidak bisa dicoba, akhirnya saya mengikuti kursus Handicraft.” Ucap Nurhayati.

“kenapa saya lebih memilih kursus Handicraft  ini? pekerjaan ini bisa ditinggal dan tidak akan gosong seperti halnya memasak,” Sambung Ibu Nurhayati saat bincang dengan tim Tvberita di kediamannya perumahan Premier Cerenity Blok B. No 5,  Jalan. Agus Salim, Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis. (4/2/21)

Menurutnya, Seni kerajinan Quilting Aplikasi ini di Indonesia masih sangat jarang ditekuni oleh masyarakatnya, Quilting tersebut menantang Nurhayati dalam bermain dari corak bahannya, tapi bahan potongan kain pun bisa  menjadi seni. Dari menggunakan sisa kain yang terpisah bisa digunakan lagi lalu digunting-gunting lagi menggunakan pola, jadi didalam kerajinan ini dituntut memainkan warna bahannya.

“Dari tekstur bahannya bisa dikombinasikan lagi,sampai bertahun- tahun tidak jadi masalah dan Handicraf  Quilting ini yang saya suka dijahit itu akan timbul tingkat kekuatan bahannya lebih tahan lama, dan untuk tingkat pengerjaannya bisa di jahit  Handmate  sampai satu bulan, dan memakai mesin jahit karena prosesnya lebih cepat, dua hari bisa selesai dan saya juga perlu mengejar waktu cepat jika banyak pesanan,” jelasnya.

Dari usaha Handicraft Quilting Aplikasi membuat Wolhang hiasan dinding mulai dijual Harga Rp 450 ribu – Rp 750 ribu. Bahkan saat ini sebagian warga Kota Bekasi mulai meliriknya, Nurhayati memainkan seni Quiltingnya saat ini pun membuat karya, tas dari tekstur Batik Indonesia dengan harga Ro 200 ribu- 350 ribu, dan sejadah sudah banyak pesanan sampai satu lusin bahkan ada juga pesanan untuk souvenir nikahan dan cendramata ibu-ibu pejabat. Namun dia bilang dalam bisnis handicraft ini tantangannya ini lebih lama dan harus sabar.

“Pada saat itu, setelah pulang dari Jepang, saya malah banyak diminta menjadi narasumber untuk mengajar pelatihan handicraft dari Kementrian Perindustrian dan UMKM  di Jakarta, dan di Kodim 0507 Bekasi untuk para para istri – istri TNI, dan ada kerjasama di Mall- Mall Jakarta untuk mensuply hasil  karya Quilting Aplikasi ini dan bisa dinikmati warga Indonesia tanpa harus membeli ke Jepang atau Amerika,” bebernya.

Menurut Nurhayati, karena seni Quilting Aplikasi  ini hanya orang asing yang mengerti, maka dari itu dia lebih banyak memasarkan dan exis di Jakarta saat itu. Padahal, sebelum ada Covid-19 dia banyak mengikuti undangan  pameran diluar daerah, bahkan sampai mengikuti pameran di Kalimantan banyak dilirik oleh Turis -Turis mancanegara.

“di Kalimantan saat itu banyak orang asing, dan banyak berkunjung kestand, responnya orang asing itu bagus sekali terhadap karya kerajinan Quilting. Maka dari itu, saya suka buka bisnis ini, karena di Indonesia belum ada yang banyak menggeluti bisnis ini dan pernah juga ikut pameran Inacraft, produk saya sampai di beli Ibu Mufida Yusuf Kalla, pada saat itu ada kebanggaan dan kepuasan sendiri, karena karya seni saya banyak disukai ibu-ibu pejabat dan para tamu lainnya di Indonesia,” tutur Ibu dari 3 putri 1 putra.

Apalagi melihat keadaan di Kota Bekasi, DKI Jakarta, dan daerah lain masih pandemi covid-19 ini, membuat dirinya harus berputar otak untuk menghidupkan usaha Handicraft Quiltingnya mengerjakannya di rumah sambil mengurus keluarga. dari hasil belajarnya dua tahun di  Jepang, kini usahanya mulai bangkit dan di kenal masyarakat luas.

“Selama pandemi, hampir satu tahun ini, justru membuat tantangan tersendiri bagi saya harus lebih kreatif mengerjakan di rumah, dan menjahitnya pun saya menggunakan jasa warga rumahan sambil membantu warga Bekasi membuka lapangan kerja dan terus membuat karya lainnya, seperti saat ini, karya yang sudah ada  jenisnya Wolhang untuk hiasan dinding, tas, sejadah beserta tas dan maskernya dan untuk karya membuat tas juga saya hanya fokus membuat dua produk dan dua warna coklat dan biru, itu semua mendatangkan  banyak pesanan,” tuturnya.

Dirinya berpesan kepada para perempuan Indonesia, khususnya bagi pebisnis UMKM, di tengah pandemi ini jangan menyerah, dan harus selalu tetap berkarya, dan banyak silaturahmi dengan teman-teman dan rekanan lainya meskipun secara online, pastinya rezeqi akan datang sendiri. (ais/sha)