Beranda Regional Walkot Bekasi Meninjau Laboraturiun Biomolekuler Standar WHO Pertama di Jabar

Walkot Bekasi Meninjau Laboraturiun Biomolekuler Standar WHO Pertama di Jabar

KOTA BEKASI – Dalam pencegahan pandemi Covid 19 di Kota Bekasi, hadirnya laboraturium biomolekuler standar WHO (World Health Organization) yang pertama di Jawa Barat, bertempat di Islamic Center Kota Bekasi, Wali Kota Bekasi meninjau langsung keberadaan lab tersebut.

Pendirian laboratorium merupakan kerja sama Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Rumah Sakit (RS) Bhakti Kartini.

“Kami apresiasi mereka yang turut berpartisipasi dalam laboratorium biomolekuler, prinsipnya antisipasi terhadap kejadian luar biasa harus kita tanggulangi, baru pertama hadir di Bekasi,” kata Rahmat Effendi, Kamis. (11/2/21)

Wali Kota Bekasi melihat kondisi dalam laboraturium yang sesuai dengan standar WHO, ini adalah upaya dari pencegahan pandemi Covid 19 di Kota Bekasi yang langsung bisa menguji 1200 tes tiap harinya.

“tambahan terus bergulir baik dari pihak swasta yang bekerja sama selain Pemerintah juga memiliki Labkesda RSUD, Labkesda Dinkes dan Kontainer tes untuk uji secara cepat hasil dari swab yang dilakukan warga,” jelas Rahmat Effendi.

Sementara itu, Owner RS Bhakti Kartini Muhammad Ikhsan Nurdjamil mengatakan, laboratorium biomolekuler berstandar biosafety laboratorium level dua plus (BSL 2+) WHO merupakan yang pertama di Jawa Barat.

“Lab ini nantinya bukan hanya untuk pemeriksaan virus seperti Covid-19 saja, tapi juga bisa berkembang untuk pemeriksaan biomolekuler yang lain, misalnya penanda tumor, kanker, meningitis, Mars, HIV, Hepatitis, TBC dan lain-lain,” jelas Muhammad Ikhsan.

Dengan beroperasinya laboratorium berstandar WHO, Ikhsan berharap akan terjadi percepatan tracing atau penelusuran dari penyebaran Covid-19 di Kota Bekasi.

Kapasitas pemeriksaan sampel di laboratorium biomolekuler Islamic Centre Bekasi, mampu menampung 1.200 per hari.

“Setiap satu alat PCR di Lab ini mampu memeriksa per sampel maksimal enam jam, dengan dua alat yang dimiliki apabila dioperasikan secara full 24 jam bisa dilakukan tiga sesi,” terangnya. (ais)