Beranda Karawang Sertifikat Diduga Dilelang Tanpa Izin, Yedi Menangis Minta Bantuan Presiden

Sertifikat Diduga Dilelang Tanpa Izin, Yedi Menangis Minta Bantuan Presiden

TVBERITA.CO.ID, KARAWANG – Seorang nasabah salah satu Bank milik negara bernama Yedi Mulyana mengamuk dan menangis meminta bantuan kepada Presiden Jokowi untuk menolongnya.

Pasalnya, Yedi mengaku sangat dirugikan oleh pihak Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Karawang karena pihak bank telah melelang sertifikat toko miliknya yang dijadikan jaminan utang sebesar Rp 550 juta tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu dan meminta persetujuan dirinya sebagai pemilik.

Bahkan diungkapkan Yedi, hingga hari ini, ia tidak pernah menerima risalah hasil lelang sertifikat toko miliknya tersebut.

Yedi pun menduga ada kerjasama atau kongkalikong antara pihak Bank dengan oknum tertentu yang berniat ingin memiliki bangunan tokonya tersebut, yang berlokasi di Jalan Rangga Gede, Kelurahan Tanjungpura, Karawang, Jawa Barat.

“Mereka telah melelang sertifikat rumah saya, tanpa sepengetahuan saya tanpa memberitahukan dulu kepada saya, dijualnya berapa, ya terbukalah. Tapi ini, tiba-tiba saya diusir oleh si pemenang lelang disuruh mengosongkan rumah,” katanya menahan kesedihan dan kekecewaannya.

“Bapak presiden bantu saya pak, bantu saya pak Jokowi, saya orang miskin, saya orang kecil, toko dan rumah saya ini saya beli dari hasil jerih payah saya menambal ban selama 25 tahun,” ucapnya lagi lirih dengan berurai airmata.

Didampingi kuasa hukumnya, Terbata-bata sambil sesekali menyeka airmatanya, kepada awak media, Yedi menuturkan sekilas kejadian naas yang menimpa dirinya sehingga ia pun harus kehilangan semua aset toko dan rumah miliknya.

Diungkapkan Yedi, semua berawal di akhir tahun 2013 lalu, ketika ia memutuskan menggadaikan sertifikat toko miliknya sebesar Rp 550 juta ke Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Karawang.

Namun dalam perjalanannya usahanya pun berkendala dan macet, sehingga pembayaran cicilan pun menunggak sejak tahun 2015.

“Saya hanya mampu membayar cicilan selama satu tahun, karena usaha saya macet. Saya pun kemudian diperingati pihak bank untuk segera membayar tunggakan tersebut jika tidak akan dilelang,” tuturnya.

“Saat itu Saya pun meminta pihak Bank untuk tidak melelang sertifikat saya, saya lebih baik menjual sendiri rumah dan toko saya, karena kalau dilelang kan murah,” jelasnya.

“Dan ditahun 2016, datanglah seorang pembeli dari Bekasi bernama Mulyadi, dan sepakat membeli toko dan rumah saya itu seharga Rp 850 juta. Dari hasil penjualan toko dan rumah ini, saya maksudkan Rp 507 juta untuk membayar hutang saya di bank dan sisanya membeli tempat tinggal baru,” ungkapnya.

Lebih lanjut diceritakannya, pada saat itu si pembeli bernama Mulyadi yang merupakan seorang pengusaha asal bekasi memberikan DP terlebih dahulu, berupa uang sebesar Rp 70 juta dan barang berupa Ban Velk senilai lebih dari Rp 100 jutaan. Sehingga total uang yang sudah diterima Yedi dari Mulyadi mencapai Rp 213 juta.

“Dari DP awal, Mulyadi ini menjanjikan dalam sebulan akan segera membayar seluruh uang pembelian rumah. Dan saya pun tentunya senang dan yakin karena sudah masuk DP, dan segera bergegas datang ke Bank untuk menjanjikan bahwa saya akan segera membayar hutang saya dan menebus sertifikat milik saya karena sebentar lagi rumah saya akan laku terjual,” ulas Yedi.

Namun malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, si pembeli rumah (Mulyadi) tak juga kunjung melakukan pembayaran pembelian rumahnya. Mulyadi justru malah mengutus seorang anggota polisi dari Polres Bekasi menagih uang DP miliknya, sebesar Rp 213 juta.

“Anggota polisi tersebut datang menagih uang DP yang diberikan Mulyadi, karena uangnya sudah habis saya pakai membayar hutang, anggota tersebut pun marah dan meminta saya menyelesaikan urusannya di Polres Metro Bekasi,” ungkapnya.

Dan betul, keesokan harinya ia pun di panggil ke Polres Metro Bekasi, dan setelah dipanggil sebanyak 3 kali, Yedi pun dijadikan tersangka, karena dilaporkan Mulyadi.

Dan untuk menyelesaikan semua urusannya tersebut, ia pun mencoba mencari solusi lain, sehingga akhirnya mendapat pertolongan dari BPR Akasia.

Akan tetapi, begitu ia coba menebus sertifikat rumah miliknya di BRI, ternyata pihak bank saat itu mengatakan jika sertifikat tokonya sudah dilelang.

“Tentu saja saya kaget, menurut pihak Bank jika saya tidak percaya, saya diminta bertanya ke Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), dan dari KPKNL saya malah suruh tanya kembali ke BRI,” sesalnya merasa diombang-ambing.

“Dan Anehnya, saya mendapat surat pemberitahuan bahwa sertifikat itu akan dilelang dari pihak bank baru dikirimkan kepada saya di bulan April, padahal saya sudah datang sejak bulan Maret, satu bulan sebelumnya, di mana saya akan menebus sertifikat saya, dan pihak bank saat itu bilang sertifikat saya sudah dilelang, ini tentu aneh, ada apa ini?” ucap Yedi nampak sedih dan bingung.

Terlebih lagi, tak lama kemudian datang surat somasi pengosongan toko dan rumah dari PT Mulya Indah, pemenang lelang sertifikat miliknya.

Dan yang membuatnya lebih kaget lagi, ternyata alamat pemenang lelang ini sama dengan alamat Mulyadi, calon pembeli rumahnya yang kemudian melaporkannya kepada pihak kepolisian.

“Saya kaget, alamatnya kok sama dengan alamat Mulyadi di Tamelang, saya pun coba mengecek sendiri dan ternyata RT di sana membenarkan jika itu adalah rumah Mulyadi, ini tentu janggal,” ujarnya keheranan.

Menduga banyaknya kejanggalan, Yedi pun memutuskan akan mengambil langkah hukum. Didampingi kuasa hukumnya, Alex Safri Winando, SH., MH., ia pun akan menggugat kasus yang menimpanya ini ke Pengadilan Negeri Karawang.

Ditemui di tempat yang sama, Alex Safri mengatakan pihaknya akan menggugat ke Pengadilan Negeri terkait lelang yang dilakukan KPKLN tanpa pemberitahuan dan tanpa persetujuan pemilik sertifikat (kliennya Yedi Mulyana).

“Kami akan menggugat Bank BRI Cabang Karawang, dan KPKNL Purwakarta, karena seharusnya ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada klien kami, secara bertahap, kemudian jika tidak juga ada tanggapan baru dilelang, namun tetap harus dengan persetujuan nasabah,” jelasnya.

Disinggung soal dugaan persengkongkolan dibalik proses lelang ini, Alex Safri menuturkan pihaknya saat ini belum membaca kearah tersebut. Dan akan melihat terlebih dahulu proses persidangan nanti.

“Kita lihat dulu nanti dalam proses persidangan, ada atau tidak dugaan tersebut, yang jelas kita akan layangkan terlebih dahulu gugatan ke pengadilan negeri atas perlawanan eksekusi yang dilakukan PT Mulya Indah,” pungkasnya.

Sementara itu sampai berita ini diturunkan pihak Bank BRI Cabang Karawang belum memberikan keterangan resmi. (nna/fzy)