
“Banyak alumni yang kembali menyekolahkan anaknya di sini karena kesan baik selama belajar dulu,” tambahnya.
Program penguatan karakter dilakukan melalui tiga jalur: pembelajaran intrakurikuler, kegiatan ekstrakurikuler, dan habituasi harian. Pembiasaan seperti salat Zuhur berjamaah, membaca Al-Qur’an setiap Jumat, serta takziah ketika ada warga sekolah yang berduka menjadi rutinitas yang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
Patoni juga menyoroti tantangan zaman berupa pengaruh teknologi dan budaya konsumtif. Ia mendukung kebijakan jam malam dari Pemkab Purwakarta sebagai upaya menekan disrupsi terhadap fokus belajar siswa.
Baca juga: Program 3 Juta Rumah: Purwakarta Dapat Kuota 1.000 Unit, Tahun Ini Dibangun 300
“Teknologi harus jadi alat bantu, bukan pengganggu. Budaya hedonisme harus diarahkan. Kita ingin anak-anak tumbuh dengan akhlak yang kuat,” tegasnya.
Dengan MPLS Ramah, SMPN 1 Purwakarta berupaya membentuk fondasi kuat bagi siswa agar mencintai budaya sekolah dan siap menghadapi masa depan.
“Lebih baik kehilangan masa muda daripada kehilangan masa depan,” pungkasnya. (*)








