Beranda Headline Diduga Oplosan, 13 Merek Beras Diuji Laboratorium

Diduga Oplosan, 13 Merek Beras Diuji Laboratorium

Beras oplosan
Ilustrasi beras Oplosan (Foto: Istimewa)

TVBERITA.CO.ID – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat menyatakan telah menarik sementara 13 merek beras yang beredar di wilayah Bandung Raya karena diduga sebagai beras oplosan atau tidak sesuai dengan klaim mutu. Saat ini, sampel dari merek-merek tersebut tengah menjalani proses uji laboratorium.

Langkah ini merupakan respons cepat atas temuan Kementerian Pertanian terhadap 212 merek beras nasional yang sebagian besar mengklaim sebagai beras premium atau medium, namun kualitasnya biasa saja.

“Setelah pernyataan Pak Menteri, kami langsung turun ke lapangan. Saat ditemukan 13 merek beras itu masih dijual, kami minta untuk ditarik sementara dan tidak dijual dulu,” ujar Kepala Disperindag Jabar, Nining Yulistiani, Selasa (16/7/2025).

Baca juga: Kisruh Kuliner Maranggi, Ini Kata Paguyuban Kampoeng Sate Maranggi

Beberapa merek yang disebut antara lain Sovia, Fortune, Siip, Raja Ultima, Raja Platinum, Alfamidi Setra Pulen, Beras Premium Setra Ramos, Food Station, Setra Pulen, Setra Ramos, dan Ayana.

Pengawasan dilakukan oleh tim gabungan Satgas Pangan, DKPP, Pemkot Bandung, serta aparat hukum yang menyisir berbagai retail modern di Bandung Raya.

Meski secara fisik dan label tampak sesuai, Disperindag Jabar tetap melakukan uji laboratorium guna memastikan kualitas beras sesuai klaim. Hasil uji ini ditargetkan rampung dalam dua pekan.

Empat distributor, yaitu PT Padi Indonesia Maju (Wilmar), PT Food Station Tjipinang Jaya, PT Belitang Panen Raya, dan PT Sentosa Utama Lestari, telah mengirim surat resmi ke Disperindag Jabar yang menyatakan bahwa beras mereka tidak mengandung unsur beras oplosan, dan sesuai mutu label.

Namun Nining menegaskan, uji laboratorium tetap berlanjut. Bila terbukti terjadi pemalsuan mutu atau label, sanksi tegas akan dijatuhkan, mulai dari penarikan produk hingga rekomendasi ke Satgas Pangan Polda Jabar.

Baca juga: Pasien Diduga DBD Ditolak RS Izza Cikampek, Disuruh Cari RS Lain

Selain soal mutu, Nining mengingatkan risiko efek domino dari isu beras oplosan, terutama gejolak harga jika distribusi terganggu atau publik panik.

“Kalau masyarakat takut dan beli berlebihan, harga bisa melonjak melebihi HET. Kami siap lakukan operasi pasar jika diperlukan,” tegasnya. (*)