
KARAWANG – Maraknya tren joget di media sosial seperti TikTok yang kerap dilakukan oleh pelajar perempuan hingga anak-anak usia sekolah dasar menimbulkan keprihatinan mendalam dari kalangan pendidik. Fenomena ini dinilai berpotensi merusak karakter dan moral generasi muda Indonesia.
Dosen Pendidikan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Dr. Dewi Suprihatin, M.Pd, menyebut fenomena ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan anak usia dini.
Menurutnya, anak-anak seharusnya diarahkan ke kegiatan yang membangun seperti menyanyikan lagu anak, menghafal surat-surat pendek, serta mengembangkan bakat dan kreativitas.
Baca juga: Tahun Ajaran Baru, Waka DPRD Karawang Ingatkan Sekolah Jangan Lakukan Pungli
“Joget-joget seperti itu sama sekali tidak mendidik. Tidak ada nilai pengembangan potensi di dalamnya. Anak malah jadi ketergantungan HP,” tegas Dewi saat diwawancarai, Rabu (16/7/2025).
Ia mengungkapkan bahwa kebiasaan tersebut bisa memberi dampak jangka panjang, termasuk perilaku yang tidak teratur, gangguan perkembangan sikap, dan menurunnya semangat belajar. Anak-anak juga berisiko kehilangan arah pendidikan jika tidak diarahkan dengan tepat.
Lebih jauh, Dewi menyoroti penggunaan istilah viral di media sosial yang dianggap mengobjektifikasi perempuan, seperti ‘tobrut’ dan ‘pulen’. Ia menilai, kebebasan berekspresi seharusnya tetap dibingkai dengan etika dan kesadaran akan norma sosial.
“Busana itu memang bebas, tapi tetap harus ada batas pantas atau tidaknya, terlebih sebagai orang yang berpendidikan,” katanya.
Baca juga: Program 3 Juta Rumah: Purwakarta Dapat Kuota 1.000 Unit, Tahun Ini Dibangun 300
Dewi mengajak masyarakat untuk lebih bijak menilai tren budaya populer yang berkembang, khususnya dalam membentuk citra diri dan perilaku anak-anak dan remaja di ruang publik digital.
Pendidikan dan Kreativitas Masih Tertinggal
Dalam pandangannya, Indonesia masih tertinggal dari segi pendidikan karakter dan etika. Menurut Dewi, budaya gengsi dan rasa malas membuat digitalisasi lebih banyak dimanfaatkan untuk hiburan daripada sebagai sarana pembelajaran.













