Beranda Headline Menolak Mengemis, Abah Oma Jual Buku Gambar untuk Bertahan Hidup di Teriknya...

Menolak Mengemis, Abah Oma Jual Buku Gambar untuk Bertahan Hidup di Teriknya Karawang

Abah oma dan buku gambar karawang
Abah Oma, penjual buku jalanan yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di sudut-sudut Kota Karawang.

KARAWANG – Pada Selasa (30/12) siang itu, matahari menggantung tepat di atas Karawang. Terik menyengat aspal, kendaraan berlalu-lalang tanpa henti.

Di tengah hiruk-pikuk kota, seorang lelaki renta tampak berjalan perlahan, wajahnya letih, tangannya menggenggam lembaran buku gambar yang ia tawarkan kepada siapa pun yang melintas.

Dialah Abah Oma, penjual buku jalanan yang telah puluhan tahun menggantungkan hidupnya di sudut-sudut Kota Karawang.

Baca juga: Kisah Siti Anak Pemulung di Karawang, Kerap Bawa Pulang MBG untuk Ibu di Rumah

Dari Penjual Koran ke Penjual Buku Gambar

Sebelum menjadi penjual buku, Abah Oma adalah penjual koran. Sejak tahun 1965, ia menekuni profesi yang kala itu menjadi denyut nadi informasi masyarakat. Di masa mudanya, koran adalah jendela dunia—dibaca pagi hari, diperbincangkan di warung, dan ditunggu kehadirannya.

Karawang kala itu belum seramai sekarang. Jalanan masih lengang, kendaraan didominasi mobil-mobil tua seperti Opel Seroja.

“Dulu dagang koran rame. Kota dijual tilu perak, Kompas oge tilu perak. Jaman perak,” kenangnya sambil tersenyum.

Dengan sistem kepercayaan dari agen—dibayar setelah laku—Abah Oma berkeliling dari Yatmin, Soto Dipo, GOR Panatayudha hingga Samsat Karawang, menyebarkan kabar dari tangan ke tangan.

Namun zaman berubah. Koran cetak pelan-pelan kalah oleh layar ponsel. Pembeli kian jarang, hingga akhirnya Abah Oma memilih beralih profesi dengan menjual buku gambar anak dan alat tulis.

“Sekarang jual buku gambar lima rebu, pensil gambar dua puluh rebu. Tapi sepi. Kadang buat makan oge hese, teu aya nu meser,” tuturnya lirih.

Langkah Panjang di Usia Senja

Setiap pagi, Abah Oma berangkat dari Tegal Sawah menuju Johar. Ia naik angkot dengan ongkos Rp5.000, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan ojek seharga Rp20.000. Modal membeli buku pun tak kecil, berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000.

Baca juga: Underpass Gorowong Resmi Dibuka, Titik Rawan Macet di Karawang Timur Kini Bisa Terurai

Tak hanya berdiri di persimpangan lampu merah, ia juga berkeliling ke sekolah-sekolah menawarkan buku dan alat gambar. Pagi hari terkadang ia berjualan di Bojong Loak, siangnya kembali menyusuri pusat kota.

Penghasilan tak menentu, namun Abah Oma tetap bertahan. Ia tak punya banyak pilihan.

Beban hidupnya kian berat setelah sang istri wafat akibat penyakit lambung dan diabetes. Ia mengaku tak memiliki saudara maupun rumah pribadi.

“Abah gak punya sodara. Istri Abah juga udah gak ada,” ucapnya pelan.