
Kartalim masih kecil waktu itu, tapi ia ingat jelas. Orang-orang dari luar Karawang datang dengan kapal, berlayar berhari-hari. Mereka mencari koin kuno, guci keramik, perhiasan, apa saja yang bernilai.
“Waktu itu benar-benar ramai. Semua dari kota-kota luar datang ke sini buat berburu barang antik,” ujar Kartalim.
Teknik yang digunakan serampangan. Kompresor, mesin yang biasanya dipakai tukang tambal ban, dijadikan alat suplai udara. Selang panjang disambungkan ke mulut penyelam. Udara kotor tanpa regulator. Namun dengan cara itu, mereka bisa bertahan puluhan menit di dasar laut.
Warga lokal meniru. Satu kapal berisi empat orang: dua berjaga di atas, satu mengoperasikan mesin, dua lainnya menyelam dengan palu dan pahat.
Hasil buruan keramik asal Tiongkok, koin VOC, serta fragmen kapal kayu seakan menjadi bukti bagaimana Karawang terhubung dengan jaringan perdagangan global.
Baca juga: 392 Tahun Karawang, Ketua DPRD Ingatkan PR Pengangguran dan Sampah
Ironisnya, mereka yang tak puas mendapatkan buruan benda peninggalan kapal, juga mencungkil bongkah terumbu karang yang belakangan mereka tahu sebagai Gugsan Karang Sendulang.
Bukan apa-apa, nelayan lokal dulu memandang terumbu karang bukan sebagai benteng alami laut, tetapi sebagai ladang batu hidup yang bisa dijual.
“Kami congkel terumbu karang pakai pahat dan palu, ambil yang kecil-kecil, yang bagus untuk dijual,” ungkap Nanang, nelayan lain di desa tersebut.








