KARAWANG – Rapat Minggon yang digelar di Kelurahan Palumbonsari menjadi wadah penyampaian aspirasi masyarakat sekaligus forum diskusi berbagai persoalan lingkungan, Rabu (29/4/2026).
Dalam Rapat Minggon tersebut, tiga isu utama yang dibahas adalah DBD sebagai perhatian utama masyarakat, selain itu program BPJS Ketenagakerjaan serta pengelolaan sampah.
Lurah Palumbonsari, Indra Sudrajat, menyampaikan bahwa kasus DBD di wilayahnya masih dalam kategori serius meski belum mengkhawatirkan.
Baca juga: 30 Ribu Anak Tak Sekolah, DPRD Karawang Desak Pemkab Validasi Agar Beasiswa Tepat Sasaran
“Terdapat sembilan kasus baru DBD. Kami langsung mengarahkan warga untuk melakukan kerja bakti sebagai langkah pencegahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan fogging diserahkan kepada masing-masing RT/RW dan dapat dilakukan pada akhir pekan. Namun, menurutnya, fogging bukan solusi utama dalam penanganan DBD.
“Pengasapan bukan solusi utama. Yang paling penting adalah penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk mencegah DBD,” tegasnya.
Indra menambahkan, mayoritas kasus DBD terjadi pada usia remaja dan dewasa. Ia juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih cepat antara RT/RW dan Puskesmas dalam penanganan kasus DBD.
Selain isu DBD, program BPJS Ketenagakerjaan juga menjadi perhatian. Kelurahan Palumbonsari menggandeng relawan PRISAI untuk membantu sosialisasi kepada masyarakat, khususnya pekerja informal.
“Program ini menyasar pekerja seperti ojek dan sopir angkot agar tetap terlindungi melalui BPJS TK,” jelasnya.
Ia mengungkapkan saat ini terdapat potongan iuran BPJS TK dari Rp16 ribu menjadi Rp8 ribu hingga Desember, sehingga diharapkan semakin banyak warga yang mendaftar.
Sementara itu, persoalan sampah juga menjadi sorotan serius dalam Rapat Minggon. Indra menilai rendahnya kesadaran masyarakat menjadi penyebab utama masalah sampah.
“Masih ada warga yang membuang sampah ke kali dan irigasi. Ini harus segera diubah,” ujarnya.
Kelurahan bersama Dinas Lingkungan Hidup Karawang dan Linmas telah melakukan pembersihan di sejumlah titik, sehingga kondisi sampah mulai berkurang dibanding sebelumnya.
Baca juga: May Day 2026: 12.500 Buruh Bakal Bergerak ke Jakarta, Polisi Siapkan Pengawalan
Indra menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan akademisi dalam menangani persoalan sampah.
Ia juga menyebut adanya rencana program waste to energy di Karawang serta mendorong pembentukan TPS3R dan TPST di tingkat lingkungan.
“Kesadaran dan kerja sama menjadi kunci. Tanpa itu, penanganan sampah tidak akan maksimal,” pungkasnya. (*)














